Renungan Pagi
Headlines News :

Pages

Latest Post

Mengabdikan Diri

Matius 24:45-47

http://www.hidupkatolik.com/foto/bank/images/Mengabdi.jpgAda kisah menarik dari negeri Tirai Bambu, China. Seorang anak yang baru duduk di kelas 2 bangku Sekolah Dasar berhasil menyelamatkan dua nyawa dari reruntuhan bangunan yang diakibatkan gempa bumi ketika itu. Namanya Lin Hao. Ia seorang ketua kelas dari 30 siswa. Ketika gempa bumi terjadi, seluruh bangunan sekolah runtuh menimpa Lin Hao beserta teman-temannya. Saat semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri masing-masing, Lin Hao justru menyelamatkan kedua nyawa temannya. Dengan penuh keberanian, ia mempertaruhkan nyawanya. Bocah itu berusaha keras mengeluarkan kedua temannya yang ketika itu tersangkut di antara puing-puing bangunan yang runtuh. Dan ketika ditanya mengapa dia mau mempertaruhkan nyawanya untuk kedua orang temannya itu, dengan gamblang Lin Hao menjawab, "Aku adalah ketua kelas dan sudah seharusnya aku bertanggung jawab atas teman-temanku."  
Jawaban dari Lin Hao inilah yang membuat kisah ini menjadi menarik. Jika jawaban itu
 tidak keluar dari mulut seorang bocah, yang umurnya lebih kurang 7 tahun itu, mungkin akan menjadi suatu hal yang biasa. Anak sekecil itu memiliki dedikasi atau pengabdian diri yang tinggi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Sungguh luar biasa bukan? Apakah kita sudah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Lin Hao? 
Dedikasi yang tinggi mutlak diperlukan bagi setiap orang yang memanggul sebuah tugas yang telah diamanatkan kepadanya. Dengan dedikasi yang tinggi inilah seseorang akan memperoleh semangat yang besar untuk menjalankan tugasnya itu, seperti yang telah dilakukan oleh Lin Hao. Saat menyelamatkan nyawa kedua temannya ketika itu, Lin Hao sedang menjalankan tugasnya sebagai ketua kelas. Karena dedikasinya tinggi terhadap tugas yang diembannya itu, membuat Lin Hao sama sekali tidak memedulikan keterbatasan fisiknya. Ukuran tubuh yang pendek dan bentuk tubuhnya yang kecil, sama sekali tidak menjadi penghalang bagi Lin Hao di dalam melaksanakan tugasnya. 

Jika kita melakukan tugas yang dimandatkan dengan penuh dedikasi, maka keterbatasan atau kekurangan tidak akan pernah menjadi penghalang. Di dunia ini, tugas kita tidak hanya menjalankan profesi yang sesuai dengan keahlian. Menjadi seorang kepala keluarga, ibu rumah tangga, dan anak, ini pun merupakan tugas yang harus dilakukan dengan dedikasi tinggi. Terlebih dari semua tugas itu, ada satu tugas khusus dan mulia yang diberikan langsung oleh Tuhan kepada setiap kita yang percaya, yaitu memberitakan Kabar Baik. Jadi, laksanakanlah tugas yang dimandatkan dengan penuh pengabdian, tanpa mengedepankan imbalan. Dengan demikian, nantinya imbalan yang kita peroleh tidak dibatasi oleh lembaran kertas yang bernama "uang", karena Tuhan yang adil dan setia akan memberikan sesuatu yang lebih daripada itu kepada kita yang juga setia kepada tanggung jawab kita.

Kualitas Yang Teruji

2 Korintus 11:23-28

http://1.bp.blogspot.com/-TIrfnhhTznU/Un5f1zk8INI/AAAAAAAAAxE/zlQXBOGFFc8/s1600/PB090181.JPGNelson Mandela adalah tokoh pejuang anti apartheid yang memperjuangkan persamaan hak-hak kulit hitam. Madiba, demikian julukannya, yang artinya "Bapak Bangsa", merupakan orang kulit hitam pertama yang memegang jabatan Presiden Afrika Selatan periode 1994-1999. Ia menolak mencalonkan diri untuk periode kedua dan digantikan oleh wakilnya, Thabo Mbeki. Mandela kemudian fokus pada aktivitas amal demi memberantas kemiskinan dan HIV/AIDS melalui Nelson Mandela Foundation. Karier politiknya sungguh menjadi inspirasi bagi dunia. Mandela pernah menjalani masa kurungan selama 27 tahun. Pertama di Pulau Robben, kemudian di Penjara Pollsmoor dan Penjara Victor Verster. 
 
Dari durasi penahanannya, seharusnya cukup untuk membungkam idealisme serta menumpulkan intelegensi Mandela. Namun faktanya, kakunya dinding dan dinginnya lantai penjara tidak melunturkan kualitas dirinya. Mandela tetap cemerlang. Ia tetaplah macan podium yang orasinya selalu ditunggu oleh pendukungnya sebagai pembakar semangat. Lewat beragam penghargaan yang diterimanya seperti Nobel Perdamaian tahun 1993, medali kemerdekaan dari Presiden Amerika Serikat, Order of Lenin dari Uni Soviet, serta lebih dari 250 penghargaan lainnya, cukup menggambarkan pengakuan dunia atas kualitas diri seorang Nelson Mandela.

Di dalam Alkitab, kita melihat tokoh pemberani, yaitu Paulus. Dipanggil Tuhan dari seorang yang awalnya sangat membenci pengikut Kristus, lalu berbalik menjadi salah satu rasul yang paling militan dalam memberitakan Kabar Baik. Oleh pelayanannya, Kabar Baik berkembang ke seluruh Asia, Eropa, hingga akhirnya menjangkau seluruh dunia. Ketika ia mengajarkan tentang panggilan untuk ikut menderita bagi Kristus, pengajarannya bukanlah kata-kata kosong, sebab ia sudah membuktikannya lebih dahulu.

Paulus sering keluar-masuk penjara, didera di luar batas, kerap dalam bahaya maut, disesah, dilempari batu, mengalami karam kapal, diancam bahaya banjir dan penyamun, bahaya dari orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi; bahaya di kota, di padang gurun, di tengah laut; dan bahaya dari saudara-saudara palsu, kerap kali tidak tidur, lapar, dan dahaga, kerap kali berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian. Kesemuanya itu dilakukan Paulus untuk memelihara semua jemaat-jemaat. Apakah Paulus menjadi mundur langkahnya dengan semua tantangan tersebut? Tidak sama sekali! Ia justru mengibaratkan dirinya sebagai seorang prajurit yang sedang berjuang dan tidak memusingkan diri dengan soal-soal penghidupan.

Tuhan mengizinkan kita mengalami beragam tantangan hidup dengan maksud untuk menguji kualitas iman kita. Seorang pemenang tidak pernah surut langkahnya ketika bertemu masalah. Ia menjadikan masalah sebagai batu loncatan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Bagi orang-orang seperti ini, masalah adalah sarana untuk menguji level keahlian mereka.

Karunia Diri


Roma 1:11; 1 Timotius 4:14-16

http://rumametmet.com/wp-content/uploads/2009/02/lilin-banyak.jpgDi dalam kehidupan ini, tentu kita memiliki orang-orang yang menjadi panutan bagi kita. Terlebih lagi di dalam perjalanan pertumbuhan iman kita. Dapatkah kita mengingat kembali pelajaran-pelajaran kehidupan yang dapat dipetik dari orang-orang tersebut? Mungkin mereka adalah orang-orang yang lebih berpengalaman dari kita, atau hanya orang biasa. Di tempat saya bekerja di rumah jompo, kami suka dikunjungi oleh seorang wanita setengah baya yang memiliki seekor anjing yang berbulu tebal dan putih berkilau, bernama Lola. Lola bertubuh besar dengan bulu yang tebal membuat ia nampak seperti beruang. Kedatangan wanita itu dengan seekor anjing yang lucu sangat menghibur para lansia. 
 
Mereka sangat senang dikunjungi oleh ibu ini. Ternyata, ibu ini memiliki jadwal untuk mengunjungi rumah-rumah jompo yang lain. Dia mengirim kartu ucapan dengan memuat foto Lola di dalamnya. Satu hal yang tebersit di benak saya adalah ia memakai sesuatu yang ia miliki, yaitu seekor anjing yang sangat lucu untuk melakukan sesuatu yang sangat sederhana dengan sukarela, namun memberi pelajaran berarti bagi saya. Apakah yang saya miliki yang dapat dipakai untuk melakukan sesuatu bagi sesama, sekaligus dapat memberikan pelajaran berharga bagi orang lain? Dengan kata lain, kita harus menjalani kehidupan ini dengan memberikan karunia diri yang dapat kita bagikan kepada orang lain.

Paulus mendefinisikan hal ini dengan sebuah pernyataan, "Untuk memberikan karunia rohani kepadamu." Paulus sangat mengenali potensi-potensi rohani di dalam dirinya yang dapat menjadi pelajaran-pelajaran berharga bagi orang-orang yang ia layani, sehingga dengan berani ia menyatakan, "Turutilah teladanku." Pernyataan ini tidaklah menyatakan sebuah kesombongan rohani, melainkan sebuah pengenalan diri yang sangat baik. Ia sangat mengenali karunia-karunia rohani yang Tuhan beri di dalam kehidupannya. Dan memakai semua itu untuk mendatangkan kemuliaan Tuhan. Ia memiliki banyak teladan kehidupan yang dapat ia bagikan, dan menjadi pemenang jiwa bagi Kerajaan Sorga karena karunia diri yang ia terapkan dalam perjalanan iman kekristenannya.

Penginjilan sesungguhnya bukanlah berapa banyak pengulasan tentang konsep-konsep kebenaran Tuhan yang dapat kita jabarkan dalam kata-kata, melainkan yang dapat kita terapkan di dalam diri kita dan kemudian memberikannya dalam bentuk karunia diri yang dapat dibaca oleh dunia. Kita harus menjadikan butir-butir kebenaran Tuhan tentang iman, kasih, kerendahan hati, dsb., menjadi bagian hidup kita. Demikianlah kita memberikan karunia diri kita sebagai orang percaya dalam takaran kebenaran Tuhan. Sebab, orientasi iman kekristenan kita bukanlah untuk diri sendiri melainkan untuk orang lain. Kita menjadi orang percaya agar orang lain juga menjadi orang percaya. Marilah  kita mulai menerapkan kebenaran Tuhan di dalam hidup kita. Itulah karunia diri kita sebagai orang percaya.

Tupai Yang Pandai Meniru

Yohanes 13:15; Filipi 3:17

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRuo_du5zEDH5_7XEHWhbQBv_eNIETI4CPbTnsqlNlhixM2B-eTmgSemua orang pasti tahu bahwa binatang yang satu ini sangat lucu dan menggemaskan. Selain itu, ternyata tupai juga memiliki satu karakter yang tidak kalah menarik untuk diperhatikan, yaitu dapat meniru setiap gerakan manusia yang dilihatnya. Seekor tupai bernama Winkelhimer Smith memiliki cacat pada tubuhnya. Hal itu membuatnya sering berdiam diri dan dokter hewan mengatakan bahwa ia mengalami stres karena keadaannya. Pemiliknya, Shyla Mouton pun tidak tinggal diam melihat keadaan hewan peliharaannya tersebut. Ia tahu benar karakter tupai yang pandai meniru itu, sehingga ia memberinya satu set alat melukis. Lalu, ia sendiri juga melukis di depan Winkelhimer. Winkelhimer awalnya hanya menatap apa yang dikerjakan oleh tuannya itu. Namun, tak lama kemudian ia juga mengambil kuasnya dan mendekapnya dengan kedua kakinya, lalu mulai menggerakkannya di atas kertas hingga menghasilkan sebuah lukisan yang membuat orang-orang di seluruh dunia terkagum saat melihat videonya di youtube dan media berita elektronik lainnya.

Kisah tupai dan Shyla ini mengingatkan kita kepada kehidupan Tuhan Yesus selama di dalam dunia. Ia telah memberikan teladan kepada kita untuk diikuti. Beberapa waktu sebelum Tuhan menjalani hukuman, Ia melakukan satu tindakan, yaitu membasuh kaki murid-muridNya, pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang yang dianggap paling rendah derajatnya. Sebelum melakukan, Yesus terlebih dahulu menanggalkan jubah dan mengikatkan kain lenan pada pinggangnya. Ini merupakan suatu sikap di mana Ia menanggalkan semua kebesaran dan keagunganNya dan merendahkan diri serendah-rendahnya.

Tentu saja Tuhan Yesus sudah memberikan teladan kerendahan hati yang lain sekalipun tidak ditulis di dalam Alkitab. Namun sesaat sebelum akhir pelayananNya di dunia ini, Tuhan Yesus meninggalkan suatu teladan yang langsung menyentuh hati murid-muridNya karena teladanNya ini berkaitan langsung dengan mereka. Apalagi yang dilakukan Tuhan Yesus ini merupakan sesuatu yang tidak biasa pada saat itu di mana seseorang yang terhormat membasuh kaki bawahannya. 
Di sinilah pelajaran yang Tuhan Yesus ingin tinggalkan, yaitu kerendahan hati. Tuhan Yesus tidak menginginkan para murid nantinya hanya sekadar berkhotbah dan mengajarkan teori saja. Tetapi lebih daripada itu, tindakan nyata adalah sebuah bentuk pengajaran yang paling efektif dan mudah diterima pendengarnya. Tidak sedikit orang yang tidak dapat mengerti dan kurang cepat dalam menanggapi apa yang kita ajarkan, tetapi ketika kita langsung mempraktekkan, maka orang-orang dengan cepat dapat memahami maksud kita. Sebagai pelayanNya, sudah seharusnya kita meneladani apa yang sudah Tuhan Yesus lakukan. Tanggalkan semua jubah kebesaran kita dan kenakanlah kain kerendahan hati dalam melayani Tuhan serta berikanlah suatu teladan yang baik.

Aku Ingin Wajahku Yang Dulu

Amsal 30:16; Mazmur 37:4

http://mannasorgawi.net/images/artikel/190694_470275_737224.jpgSudah beberapa kali ia menjalani operasi plastik. Namun ia tidak pernah merasa puas. Ia ingin menjadi lebih cantik. Itulah Hang Mioku, mantan model asal Korea. "Tolong operasi bagian wajahku yang ini," kata Hang pada dokter. "Kamu sudah melewati batas untuk operasi, ini sudah tidak wajar lagi, lebih baik kamu pergi temui dokter psikiater dahulu," jawab dokter bedah itu. "Kamu pikir saya gila dan memiliki kelainan jiwa? Sekarang juga saya minta suntikkan silikon pada wajahku!" kata Hang dengan emosi yang meluap-luap. Namun tetap ditolak oleh dokter itu. Akhirnya, Hang menyuntikkan obat yang didapatnya dari pasar-pasar. Ketika obat itu telah habis, Hang menggunakan minyak goreng sebagai ganti silikon. Alhasil wajahnya mulai membengkak. Namun ia tetap percaya diri dan mengatakan bahwa ia cantik. Tetapi lama kelamaan wajahnya semakin membengkak dan penuh lemak. Hingga akhirnya tim dokter pun tidak berani melakukan operasi plastik. Kedua orang tuanya juga tidak dapat mengenalinya lagi.

Kini hidup Hang dipenuhi dengan penyesalan. Ia bahkan harus bekerja di sebuah perusahaan untuk menyambung hidupnya, karena kondisi yang demikian tidak memungkinkan dia untuk menjadi model cantik seperti dahulu. Yang diinginkan oleh Hang saat ini adalah wajah alaminya dahulu. Tetapi, semua sudah terlambat untuk menyadari betapa berharga dan indahnya pemberian Tuhan. Ketika ia memiliki wajah cantik, Hang merasa tidak puas, ia menginginkan lebih dari itu. Bahkan, ketidakpuasannya itu telah membawanya untuk melakukan hal buruk yang akhirnya menyisakan sebuah penyesalan mendalam seumur hidup. Manusia terlahir sebagai makhluk yang tidak memiliki rasa kepuasan. Itu adalah sifat dasar manusia. Orang yang sudah kaya ingin bertambah kaya. Seorang karyawan ingin menjadi pemimpin di tempat ia bekerja. Orang dengan postur tubuh yang ideal, merasa tidak puas dan berusaha untuk lebih ideal lagi. Orang tidak puas dengan wajahnya dan ingin lebih cantik dari orang lain. Pada akhirnya, orang tersebut berusaha melakukan segala macam cara untuk memenuhi ketidakpuasannya. Tentunya ini akan membawa orang itu kepada malapetaka.

Berusaha untuk memenuhi rasa ketidakpuasan ini bukanlah hal yang salah apabila dilakukan dengan benar. Berusaha untuk menjadi lebih baik bukanlah suatu dosa. Namun ketika kita menghalalkan cara yang salah untuk memenuhi keinginan, itulah yang salah. Marilah kita mengarahkan ketidakpuasan itu untuk mendapatkan hal-hal yang baik. Hang Mioku adalah salah satu contoh dari umat manusia yang tidak pernah merasa puas. Bagaimana caranya agar kita tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang buruk? Bersyukurlah! Hanya dengan bersyukur kita dapat menerima semuanya dengan sukacita. Bersyukur akan memberikan kita kepuasan di dalam hidup ini.

Bukan Pilihan Tapi Kewajiban

Pengkhotbah 12:13 

http://indotopinfo.com/wp-content/uploads/2013/02/Pentingnya-punya-mimpi.jpgMemberikan arti pada sebuah kehidupan adalah sebuah tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia. Dunia sekuler mencari arti kehidupan ini dengan berbagai macam cara sesuai dengan dorongan hati mereka. Seperti yang dikisahkan dalam fi lm Eat, Pray, Love yang diperankan oleh Julia Robert. Di mana dia menemukan bahwa kehidupan ini akan terasa indah dengan makan enak, yaitu di Italia; kehidupan ini harus menyentuh kepada kehidupan spiritual dengan melakukan meditasi di India; kehidupan harus diwarnai dengan perasaan kasih, yaitu ketika ia menemukan cintanya di Bali. 

Namun, Alkitab mengatakan bahwa kepuasan hidup tidak terletak pada makanan yang enak karena, Manusia hidup bukan dari roti saja. Tidak juga terletak pada meditasi atau usaha manusia menemukan Tuhan melalui berbagai cara karena, Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Hanya Yesuslah jalan dan kebenaran dan hidup! Kehidupan ini juga tidak akan terpuaskan oleh cinta seseorang karena, Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih Seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Ketika Salomo membulatkan hati untuk mencari arti sebuah kehidupan, dia menyelidikinya dalam terang hikmat Tuhan. Di akhir kitab Pengkhotbah ia menyimpulkan, bahwa hal terpenting dalam hidup ini adalah menjadikan takut akan Tuhan sebagai kewajiban, yang menjadi dasar dari segala orientasi kehidupan. Karena suatu hari nanti semua manusia akan diperhadapkan ke pengadilan Tuhan. 

Prinsip ini pula yang dipegang oleh Rasul Paulus, Sebab ... kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus. (2 Kor 5:9-10) Hiduplah seperti kita akan menghadapi pengadilan Tuhan esok hari, maka kita akan mengisi hari ini dengan hal yang memuliakan Tuhan. Seberapa jauhkah kita telah menjadikan rasa takut akan Tuhan sebagai kewajiban; seberapa dalamkah usaha kita untuk menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan? Mungkin jawabannya adalah sebuah kegagalan. Namun kegagalan bukanlah akhir segalanya, melainkan langkah permulaan atas sebuah keberhasilan. 

Kegagalan adalah sukses yang tertunda ketika kita mampu belajar dari kesalahan. Tinggalkanlah semua kegagalan yang telah kita buat. Mulailah dengan keputusan baru untuk mengalami sebuah perubahan yang membuat kita menjadi lebih takut akan Tuhan, dan menjalani kehidupan yang berusaha menyenangkan Tuhan. Seperti sebuah kalimat yang dinyatakan oleh Lauren Bacall, I am not a has-been, I am a will be, artinya kita tidak tenggelam pada sebuah masa lalu, melainkan selalu ingin menjadi sesuatu yang baru. Jangan tenggelam pada kegagalan, melainkan muncullah dengan sebuah kehidupan baru, yang mengalami jamahan Tuhan. Tahun-tahun hidup kita jalani sebagai tahun yang menjadikan Tuhan sebagai pahlawan yang memberi kemenangan.

Berkorban Untuk Sahabat

Yohanes 15:13

http://khilafatulmuslimin.com/wp-content/uploads/2013/07/Infak-fisabilillah.jpgJumat, 20 Juli 2012, menjadi salah satu malam paling mengerikan di dalam sejarah Amerika Serikat. Saat seorang pemuda berumur 24 tahun bernama James Holmes memuntahkan peluru dari senjatanya ke arah penonton bioskop, saat penayangan perdana film Batman: The Dark Knight Rises di Teater Film Century Aurora 16, Denver, Colorado. Sewaktu tokoh Batman muncul di layar, tiba-tiba saja muncul seorang pria berbaju besi dengan masker gas air mata yang menutup mukanya. Dengan satu senapan laras panjang, pria itu menghadap ke arah penonton dan memberondong mereka dari jarak dekat. Dua belas orang tewas seketika, sementara 59 lainnya mengalami luka serius.

Tragedi penembakan di Aurora tersebut meninggalkan kisah heroik mengenai tiga orang pria yang tewas, demi melindungi kekasihnya. Jon Blunk, seorang mantan angkatan laut, pergi menonton film bersama pacarnya, Jansen Young. Ketika penembakan berlangsung, Jon langsung melindungi tubuh Jansen dari peluru. "Dia langsung tahu begitu mendengar tembakan dan langsung mendorong saya untuk menunduk," ujar Jansen dalam sebuah sesi wawancara dengan televisi lokal. Ketika penembakan berhenti, Jansen bermaksud untuk mengajak Jon pergi, ternyata Jon sudah tak bernyawa. Matt McQuinn, melindungi pacarnya Samantha Yowler. Matt tewas setelah ditembak tiga kali. Demikian halnya dengan Alex Teves, yang melindungi pacarnya, Amanda Lindgren. Teves yang sebulan sebelumnya baru saja memperoleh gelar master untuk jurusan psikologi konseling dari Universitas Denver merelakan nyawanya demi keselamatan jiwa orang yang dicintainya.

Persahabatan Yonatan dan Daud layak dijadikan inspirasi memahami makna persahabatan yang sesungguhnya. Ketika ayahnya, Saul, berniat membunuh Daud, Yonatan membantu Daud untuk melarikan diri. Persahabatan Daud dan Yonatan merupakan persahabatan yang luar biasa. Dalam 1 Sam 18:1 dikatakan bahwa Yonatan mengasihi Daud seperti jiwanya sendiri. Karena keputusannya membela Daud, Yonatan disebut sebagai anak yang kurang ajar oleh ayahnya. Bukan cuma itu, Saul bahkan melemparkan tombak kepada Yonatan untuk membunuhnya. Namun, Yonatan ikhlas menerima perlakuan kasar itu, bahkan ia kukuh pada pendiriannya untuk membela sahabatnya, Daud.

Kualitas seorang sahabat teruji ketika sahabatnya tengah mengalami masalah. Sahabat sejati adalah mereka yang rela menempatkan kepentingan sahabatnya lebih utama dibanding dirinya sendiri. Yoh 15:13 berbunyi, "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." Seorang sahabat tak pernah menimbang untung-rugi dalam melakukan kebaikan. Persabahatan mengandung makna resiprokal, artinya saling melakukan hal yang sama. Jika sahabat rela berkorban bagi kita, maka sudah sepantasnya kita berbuat yang sama kepadanya.

Setiakah Anda ?

Ibrani 13:4; Efesus 5:28

http://soverdisurabaya.org/wp-content/uploads/2012/11/angry-crowd.jpgKesetiaan baru akan berwujud ketika dibentuk di dalam dapur kesukaran. Dalam masa inilah komitmen yang dahulu diucapkan di hadapan Tuhan teruji kemurniannya. Seorang pria yang tidak lagi muda, telah setia mendampingi istrinya. Selain bekerja, di dalam kesehariannya ia juga harus merawat sang istri yang sakit. Pasangan suami-istri ini dikaruniai 3 orang anak. Ketika sang istri melahirkan anak mereka yang ke-3, saat itulah kesetiaan sang suami diuji. Sang istri tiba-tiba mengalami kelumpuhan pada kaki dan beberapa tahun kemudian seluruh tubuhnya mengalami kelumpuhan total. 
Sejak saat itu, beban hidup pria tersebut telah bertambah, selain bekerja mencari nafkah, ia juga harus merawat sang istri dan menggantikan peran istrinya sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya. Setiap hari sebelum berangkat ke kantor, terlebih dahulu ia memandikan sang istri, membersihkan kotorannya, dan mendudukannya di depan layar TV agar sang istri tidak merasa kesepian. Setiap jam istirahat kantor, ia selalu pulang ke rumah untuk menyuapi sang istri, untungnya jarak antara rumah dan kantornya tidak terlalu jauh. Sebelum terlelap dalam tidur, ia selalu bersenda gurau bersama sang istri, walau sang istri tidak dapat berbicara. Semuanya ini ia lakukan selama 25 tahun. 
Setelah ketiga anaknya beranjak dewasa dan sudah memiliki kehidupan masing-masing, mereka berkeinginan untuk merawat sang ibu. Mereka juga memberikan izin kepada sang ayah untuk menikah lagi. Namun, tawaran tersebut ditolak berkali-kali oleh pria paruh baya itu. "Jika perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin sejak lama Ayah sudah menikah lagi. Sekarang coba tanyakan pada Ibumu, apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan Ayah yang diberi kesehatan oleh Tuhan untuk dirawat dan dibahagiakan oleh orang lain? Lalu, bagaimana dengan Ibumu yang sakit? Sejak awal Ayah telah memilih Ibumu menjadi pasangan hidup Ayah. Sewaktu sehat dahulu, Ibumu juga telah setia merawat dan mencintai Ayah. 
Ia pun telah memberikan anak-anak yang lucu pada Ayah, dan sekarang ia sakit karena berkorban untuk cinta kami. Ini adalah ujian bagi Ayah, apakah Ayah dapat memegang komitmen untuk mencintai Ibumu apa adanya atau tidak." Ucap pria tersebut kepada anak-anaknya.
Dalam suatu hubungan, kesetiaan adalah hal utama yang dibutuhkan untuk mengikat hubungan tersebut. Kesetiaan bukan sekadar ungkapan perasaan yang diucapkan. Kesetiaan baru akan termaknai setelah menghadapi ujian kehidupan. Kesetiaan adalah sebuah janji luhur yang tak lekang oleh waktu. Jadi, kesetiaan itu bukanlah suatu pilihan, tetapi merupakan sebuah keputusan. 
Anda bisa menjadi pasangan setia, jika Anda memutuskan untuk setia! Banyak hubungan yang hancur karena kesetiaan telah berkurang. Untuk itu, jagalah hati Anda untuk tetap setia. Jadikanlah Kristus sebagai Kepala dalam rumah tangga Anda, maka ia akan senantiasa menuntun langkah Anda dan pasangan Anda pada jalan yang benar.

Popular Template



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Renungan Pagi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger