Yunusmikaart...

Translate

Google+ Followers

BERTUMBUH DALAM ANUGERAH ALLAH

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR759C7L4suNJHp2F-wZmPJOQY5ARii61ho9CpNXmXnTuRDF8y4Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. BagiNya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya (II Petrus 3 : 18 ) Bertumbuh dalam anugerahNya, itu adalah kerinduan Allah. Allah ingin bagaimana setiap orang yang telah menerima kasih karuniaNya tidak mengalami stagnan apalagi undur dari kasih karuniaNya. Kitab Ibrani menyebutkan, supaya mereka tidak menjadi bayi rohani terus menerus, meski dinilai dan diukur secara waktu mereka seyogyanya sudah menjadi pengajar  (Ibr. 5:13). Lebih tegas, penulis Kitab Ibrani mengatakan bahwa, supaya mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang untuk tidak murtad (Ibr. 4-6). Allah tidak berkenan pada mereka yang telah mengecap kebaikan Allah, namun undur dari padaNya. Kita tentu percaya bahwa orang yang sungguh-sungguh telah dibenarkan oleh Allah, mereka tidak akan undur dari pada Allah. “Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup (Ibr. 10:39).

    Perintah untuk bertumbuh dalam anugerah Allah menjadi bagian yang terus disampaikan oleh para rasul kepada orang percaya mula-mula. Mengingat banyak hal yang dapat menjadi penghalang bagi mereka untuk tidak bertumbuh. Seperti tekanan dan aniaya terhadap umat Tuhan mula-mula, adanya pengajar-pengajar sesat atau guru-guru palsu yang menyelewengkan kebenaran tentang Kristus. misalnya dalam konteks 2 Petrus 3:18. Dia mengingatkan kepada mereka yang telah mengetahui kebenaran tentang Kristus, supaya mereka waspada, tidak terseret ke dalam kesesatan yang pada akhirnya dapat membuat mereka kehilangan pegangan. Dalam situasi yang demikian Petrus memerintahkan supaya mereka bertumbuh dalam anugerah Allah. Kepada jemaat Kolose yang juga menghadapi ajaran palsu, Paulus juga mengingatkan kepada jemaat di Kolose, supaya mereka harus berakar, dibangun dan bertambah teguh sebagai wujud dimana mereka bertumbuh dalam pengenalan akan Allah.

 Sebelum para rasul, Yesus telah mengingatkan kepada para muridNya dan orang yang mengikutiNya supaya mereka tidak berhenti pada satu titik dalam hubungan dan pengenalan akan Allah. Dia memerintahkan supaya mereka mengembangkan setiap talenta yang telah diberikan. Lebih lagi, dalam hubungannya dengan pertumbuhan orang percaya, Yesus mengatakan kepada mereka yang telah menerima kasih karunia dari padaNya, Ia berkata “jangan berbuat dosa lagi” (Yoh. 8:11). Dalam Bahasa yang gunakan oleh Yohanes Pembaptis untuk menunjukan bertumbuh dalam anugerah Allah adalah, setiap orang yang bertobat menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan (Mat. 8:8). Bertobat dan mengaku percaya pada Kristus tidak sekedar ucapan yang keluar dari mulut, namun dalam perilaku hidup di keseharian tidak menunjukan akan adanya perubahan dalam sikap dan perbuatan. Dimana hidup bukan lagi untuk kepentingan dan kepuasan diri, tetapi mengabdikan hidup pada Kristus dan kepada sesama. Bertumbuh dalam anugerah Allah adalah suatu perintah yang seyogyanya secara progresif dialami oleh orang percaya. Yohanes, dalam pembuangannya di Patmos mengingatkan kepada jemaat di Smirna yang sedang dalam penganiayaan, “…hendaklah engkau setia sampai mati…” (Why. 2:10). Orang yang mampu setia kepada Allah di tengah aniaya yang dialami adalah orang yang telah mengalami pertumbuhan dalam iman yang sejati. Hidup yang bertumbuh dalam anugerah Allah, mampu mempertahankan iman dengan hidup benar sekalipun dalam himpitan beragam badai yang keras.

    Kerinduan orang percaya yang sejati adalah kerinduan bagaimana ia bertumbuh dalam anugerah Allah. Itu adalah suatu panggilan hidup orang percaya. Karena bertumbuh dalam kasih karunia Allah memiliki hubungan yang erat dengan hidup tinggal di dalam Kristus, melalui firman-Nya. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu. Sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yoh. 15). Adalah suatu yang imposible seseorang bisa bertumbuh dalam anugerah Allah bila Kristus tidak menjadi dasar dalam hidupnya. Dengan kata lain, orang yang bertumbuh dalam anugerah Allah adalah orang yang hidup dalam firman. Sadar dan dengan penuh kerendahan hati rela dibentuk oleh firman, yaitu punya kerinduan dan komitment secara pribadi untuk mau bertumbuh. Tetapi jangan lupa, Allah memakai orang lain untuk terlibat dan andil untuk pertumbuhan seseorang dalam anugerahNya. Karena persekutuan menjadi penting dan yang seharusnya tidak diabaikan. Sebagai sarana dan wadah tempat kita bertumbuh sekaligus tempat untuk mengaktualisasikan hidup kita yang telah bertumbuh dalam anugerah Allah. GI.Netsen

Meski Sakit, Tetap Semangat Layani Tuhan

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ3xtuoO71gkn_ttXN-a74Y5eJ9I8Ej41xvMFpkaJ0Vf0XwipaUMATAHARI beranjak naik, panas terik makin menyengat. Sepeda motor Helen melaju perlahan di jalan sempit permukiman padat penduduk di Kampung Walang, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Dia mengenakan topi lebar untuk melindungi kepalanya dari sengatan matahari. Bagi warga setempat, perempuan berusia 51 tahun itu tidak asing. Selain biasa melintas dengan motornya, dia dikenal ramah dan selalu menebar senyum kepada setiap orang yang dia jumpai. Siang itu dia mampir ke sebuah rumah mungil sederhana yang dihuni keluarga prasejahtera. Beberapa menit kemudian dia sudah keluar dari rumah itu, lalu masuk ke rumah lainnya. Kunjungan-kunjungan seperti itu merupakan kegiatan rutin perempuan yang juga dikenal sebagai salah seorang majelis jemaat HKBP Tanjungpriok, Jakarta Utara ini. Hampir tiap hari dia mengunjungi jemaat sambil mendoakan mereka. Jemaat yang dia layani hanya sektor Kampung Walang dengan 120 kepala keluarga. HKBP Tanjungpriok memiliki 13 sektor dengan ribuan jemaat. Tiap sektor dilayani lebih dari dua anggota majelis. Helen melayani dibantu tiga anggota majelis lainnya.

Sejak menjadi anggota majelis pada 1990 silam, perempuan bernama lengkap Helen Merlyana Hutajulu ini giat menjalankan pelayanan membangun iman jemaat. Meski Helen bertugas di sektor Kampung Walang namun tak sedikit jemaat dari sektor lain memintanya datang melayani. Kenangan yang sulit dilupakan Helen adalah kisah beberapa jemaat yang sakit dan dicekam ketakutan karena ajalnya telah dekat. Helen mengunjungi dan memberi penghiburan, membaca firman Tuhan dan mendoakan mereka. Jemaat itu menjadi tenang dan yakin Tuhan Yesus akan menyambutnya di surga. “Ketika saya pulang, jemaat itu meninggal dengan tersenyum,” ujar Helen.

Selain sebagai anggota majelis, ibu dua anak ini juga dipercaya sebagai pembina remaja HKBP Tanjungpriok. Sebagai tanggung jawab atas tugas-tugas pelayanan itu, Helen selalu membuka pintu rumahnya 24 jam bagi jemaat yang ingin curhat. “Bagi saya, melayani Tuhan merupakan suatu kebanggaan dan tidak akan berhenti selama saya masih diberikan nafas oleh-Nya,” tutur istri Baringin Pangaribuan ini. Di luar aktivitas gereja itu, Helen berbisnis kain songket palembang, dan secara rutin pergi ke ibu kota Sumatera Selatan untuk belanja bahan dagangan.

Ikatan batin antara Helen dan jemaat sudah berlangsung lama dan akrab. Namun tidak banyak jemaat yang tahu bahwa di balik keramahan, keceriaan dan semangatnya melayani Tuhan, Helen mengidap penyakit kronis dan mematikan. Cephalgia kronis, demikian nama penyakit yang menggorogoti kepalanya itu sejak 1977. Jika penyakitnya kambuh, Helen merasa sakit luar biasa. Bahkan tak jarang dia tersungkur dan bergulingan seperti memberontak menahan rasa sakit di kepala yang begitu hebat. Kadang dia harus membenturkan kepala ke tembok agar rasa sakitnya berkurang. Penglihatannya menjadi gelap dan muntah-muntah sebelum akhirnya pingsan. Yang menyedihkan jika penyakit itu kambuh saat dia sendirian di rumah. Pasalnya, suami bekerja di Palembang, sementara kedua anaknya bekerja dan kuliah. Dan kejadian seperti itu sering terjadi. Jika gejala penyakit muncul saat dia sedang di luar rumah, maka Helen buru-buru pulang.
Tapi Helen tak bisa “lari” jika penyakit itu kumat saat dia sedang berdiri di mimbar membacakan liturgi di hadapan ratusan jemaat yang sedang khusuk beribadah di gereja. Jika rasa sakit tiba-tiba muncul di kepala, Helen tetap menjalankan tugas. Sembari menahan rasa sakit dia berdoa meminta kekuatan untuk menyelesaikan tugas. “Puji Tuhan, saya diberikan kekuatan menahan dan bisa menyelesaikan tugas tanpa jatuh pingsan,” tuturnya. Maka jika hendak bertugas, Helen lebih dahulu menyiapkan “obat” manjurnya yakni berlutut melantunkan doa penyerahan total kepada Tuhan Yesus agar tidak terjadi sesuatu yang mengganggu tugasnya. “Jangan aku yang melakukan tugas ini Tuhan, tapi Roh-Mu. Karena jika dengan kemampuanku dan kondisiku, aku tidak mampu,” demikian doa Helen. 

Sempat meninggal dunia
Diperkirakan, penyakit ini berawal ketika Helen masih balita. Suatu waktu dia  jatuh dari ayunan, sampai kepalanya membentur lantai. Ketika itu, Helen dan keluarganya tinggal di Gunung Sitoli, Nias, Sumatera Utara. Waktu itu memang belum ada keluhan dari Helen. Namun pada 1977, saat hendak masuk perguruan tinggi, Helen kerap merasakan sakit luar biasa di kepala hingga dia pingsan. Semula, dokter menduga ada tumor di kepala Helen. Namun setelah diteliti secara intensif diduga ada gumpalan darah beku di sana. Tapi dokter belum bisa mendeteksi penyakit yang bersarang di kepala Helen. Hingga Helen berumah tangga, rasa sakit terus berlanjut dan sangat menyiksa sampai-sampai dia pernah berupaya bunuh diri, namun digagalkan sang suami.

Helen diopname selama sebulan di rumah sakit. Jika tidak ada tindakan lanjutan, dokter memperkirakan usianya tinggal tiga bulan lagi. Namun ketika operasi hendak dilakukan, Helen menolak karena tidak mau dijadikan kelinci percobaan. “Pada masa itu belum ada penyakit seperti ini. Makanya saya tolak,” demikian alasan Helen. Tapi malamnya, pukul 24.00, dia berdoa minta kesembuhan dan bernazar melayani Tuhan jika doanya dikabulkan. Usai berdoa, Helen menyaksikan pemandangan yang tak lazim: plafon ruangannya terbuka dan hawa sejuk turun melingkupi kepalanya. Seketika itu rasa sakit di kepalanya hilang. “Perasaanku menjadi enakan. Saya bisa bangun pagi dan mandi sepuasnya. Para perawat bingung karena saya mendadak pulih,” kenangnya. Helen pun minta ijin untuk pulang. Sesampai di rumah, saat itu keluarga sedang berdoa agar operasi yang akan dijalani Helen berjalan lancar. Namun melihat Helen tiba-tiba berada di rumah, mereka jadi panik bercampur takut, karena menduga Helen telah meninggal dunia, dan yang datang ini tentu hantu. Di depan keluarga, Helen bernazar akan melayani Tuhan sepenuh waktu. Itu adalah mukjizat pertama yang dialami Helen.

Ternyata kesembuhan itu belum bersifat total, sebab ada kalanya dia masih sering merasa sakit meski tidak separah sebelumnya. Hanya, beberapa mukjizat masih dialaminya. Misalnya, dokter pernah menjatuhkan vonis kalau dia tidak dapat memiliki anak. Kini kedua anaknya sudah dewasa. Berkat doa juga, putrinya luput dari kematian karena ditabrak mobil. Sang putri juga sejak lama dirasuki roh-roh jahat tapi dilepaskan berkat doa kolektif pendeta.

 Tahun 2002 lalu, Helen ditabrak mobil sampai kepalanya pecah dan mengeluarkan banyak darah. Di rumah sakit, Helen dinyatakan sudah tewas dan tubuhnya ditutupi kain putih. Saat itu Helen merasa bahwa dirinya sudah berada di pintu gerbang surga. Dia melihat suasana surga yang sangat indah. Saudara-saudaranya yang sudah meninggal mengajak Helen masuk. Namun tiba-tiba tangannya ditarik suaminya dan memohon agar Helen jangan meninggalkan mereka. Sang suami mengatakan bahwa anak-anak masih membutuhkan dia. Helen pun terharu dan berubah pikiran. Tubuhnya kembali hangat, nafas kehidupannya berdenyut lagi. Rumah sakit pun gempar!

Atas segala mukjizat yang dia alami itu, Helen berpesan: “Bersyukurlah kita telah dianugerahkan keselamatan kekal oleh Tuhan Yesus. Pergunakanlah waktu sebaik mungkin untuk Dia,” katanya.  Herbert Aritonang

Mencintai Suami-Istri Tanpa Syarat

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSvgLkYLBxOk1lx7d61J33ss_p9lUkj13NAvHSb3MQjPCiSzFgNwQBapak Konselor yang saya hormati.
Perkawinan kami baru memasuki tahun ke-2. Ketika menikah dengan istri, saya tahu kalau dia sudah pernah berhubungan badan dengan pria lain. Dia mengaku pernah diperkosa oleh pacarnya. Usia saya 38 tahun dan istri saya 30 tahun. Masalah selama ini adalah dia selalu menghindar dalam urusan kebutuhan seks, yang seringkali memicu pertengkaran. Dan dia selalu mengatakan bahwa saya tidak mengerti perasaannya. Akhir-akhir ini dia juga enggan berbicara dengan saya dan lebih sering sibuk dengan kegiatan sosial di luar rumah. Saya mencoba untuk mengalah dan berupaya menghindari konflik dengan cara tidak lagi meminta dia untuk berhubungan badan. Tapi di sisi lain saya juga dipusingkan dengan keinginan orang tua untuk segera mempunyai keturunan, mengingat usia saya yang sudah tidak muda lagi.
Mr. X
Bekasi


BAPAK X yang terkasih, memang  pernikahan bukanlah hal yang mudah, ada banyak problema yang muncul  yang semula tidak terpikirkan oleh kita. Ketika Bapak mau menikahi istri yang jelas-jelas dengan jujur menceritakan pengalaman masa lalu, mungkin Bapak punya keyakinan untuk menjadi pelindung dan pendamping  yang bisa membuat istri melupakan masa lalu yang pahit dan memulai lembaran baru yang berbahagia. Namun realita yang dihadapi ternyata  kehidupan pernikahan  tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Ada banyak hal yang tadinya kita pikir bisa kita kerjakan namun ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Ketika hal ini terjadi berulang-ulang,  ini bisa membuat kita menjadi tidak berdaya dan mungkin bingung apa yang harus kita lakukan. Apalagi ada tambahan tuntutan dari pihak keluarga yaitu masalah keturunan.

Bagi sebagian orang, hubungan seksual menjadi hal yang sangat penting, karena melalui keintiman seksual ini orang tersebut menjadi yakin bahwa pasangannya mencintai dia. Namun bagi yang lain ada banyak keintiman di luar seksual yang bisa dilihat sebagai tanda bahwa pasangan mencintai dia. Ada keintiman emosional  di mana  dia bisa mengungkapkan perasaan-perasaan pada pasangan secara terbuka, baik itu kecemasan, ketakutan, kesedihan  maupun kegembiraan. Ada keintiman intelektual di mana dia bisa bertukar pikiran secara sejajar  dengan pasangan, memiliki banyak topik untuk didiskusikan bersama. Ada juga keintiman spiritual di mana dia dan pasangan memiliki nilai yang sama dalam hal moral, nilai hidup dan nilai-nilai iman. Masih ada lagi keintiman seperti keintiman rekreasional.

Dalam konteks ini, mana yang  kira-kira Bapak bisa lakukan bersama  istri yang menurut  Bapak bisa membuat dia merasa lebih tenang dan  mau membangun relasi yang lebih personal dengan Bapak,  serta tidak lagi dicemaskan dengan pengalaman masa lalu yang  mungkin membuat dia terluka, dan mempengaruhi relasi saat ini.

Firman Tuhan dalam Efesus  5: 25 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”, mengingatkan kita akan kasih yang tanpa syarat. Apakah kita mencintai istri kita hanya ketika dia mengikuti apa kemauan kita? Hanya ketika dia memunculkan pribadi yang sesuai dengan apa yang kita harapkan? Lalu bagaimana ketika dia menjadi pribadi yang tidak kita senangi, apakah kita masih bisa mengatakan kita mencintai dia, dan berupaya untuk terus mencintai dia walaupun realita yang dihadapi tidak mendukung? 

Dalam permasalahan yang Bapak X hadapi, pertanyaan apakah Bapak mencintai istri  “tanpa syarat” perlu digumulkan kembali. Mengapa ini perlu? Ketika dia menolak untuk berhubungan,  Bapak bisa  memikirkan apa kira-kira penyebab penolakan ini  atau bisa juga memikirkan hal-hal negatif yang bisa memicu pertengkaran. Kalau Bapak memikirkan apa kira-kira yang menyebabkan istri menolak, langkah berikutnya adalah  apakah Bapak pernah mengupayakan keintiman dalam sisi lain seperti rekreasional, spiritual, emosional atau intelektual, di mana melalui keintiman di sisi selain seks ini Bapak bisa membangun relasi personal bersama istri. Dan mungkinkah ketika relasi personal semakin terbentuk, istri kemudian  bisa mengungkapkan kepada Bapak tentang apa yang membuat dia menolak  berhubungan seks.

     Pernikahan  memang memerlukan kemauan untuk saling mengenal lebih dalam lagi satu dan lainnya.  Kemauan untuk saling mengenal secara personal (pribadi) ini merupakan pekerjaan yang terus-menerus harus dilakukan oleh suami dan istri sepanjang usia pernikahan mereka, sesuai dengan janji pernikahan: “sampai maut memisahkan kita”.
Tuhan memberkati.v

Bimantoro
Lifespring Counseling Center
021-30047780
Email : Family@my-lifespirng.com

Jika Berbuat Dosa, Jangan Lari dari Tuhan

data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBxISEhUSEhQVFBUXFBQUFBQUFBQVFRUVFRQWFxQUFBQYHCggGBolHBQVITEhJSkrLi4uFx8zODMsNygtLisBCgoKDg0OGhAQGiwkHCAsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLDcsLCwsNyw3NyssLCsrLP/AABEIAMIBAwMBIgACEQEDEQH/xAAcAAAABwEBAAAAAAAAAAAAAAAAAQIDBAUGBwj/xAA8EAABAwIEAwUFBgUEAwAAAAABAAIDBBEFEiExBkFREyJhcYEUIzKRoQdCUrHB0SRicoLwMzRE4RWy8f/EABkBAAIDAQAAAAAAAAAAAAAAAAMEAQIFAP/EACYRAAICAgICAgMBAAMAAAAAAAABAhEDEiExBDIiQRNRYUIUM4H/2gAMAwEAAhEDEQA/AM99nFQ1+Jy5dA6N+S+9mjRWGDhklPiDSAbF7jblYm3pdYGgmlpTHUsvc5wDrpcW/JWOG4o+COdjrg1EIAPm69/XVJZMSbschNpclxUYeG4fBKNTJK7ny2AsqSooJY3PgcDpZ5Hpofkpj8S/g6eLTuzOJ01AvprdXWL1sctbPf3YZT2BP3nANPzN1SKlEu6Zm8IhsSOm3qrSOmuVGwog6j/D0V5Rx6IOSXI5hj8SMKMDVH2Q56BS3tSXC6FsG1I8lO1MdmL7KYWouzXWTqiP2SbfAphalhgU7EaIgx0iU6AKUU2us7VCI4G81l+I2gPsFrHNWR4jPfR8HsL+SqiVJSHNRlLjKeMx8jWRKyJZRLiKoO/JK7RJag5Qzg8yFkTUpy44QQEgDVLuktCmytchuSSlMapdLRukcGsFyTt4qG0lbCRxubpBRMNrBWFRSiJguQXkXd/KDy81dy4P2IsdXZmgjx3IVPiMJe/J45nnz2al45Npfw01hcI/0po4y4lx2GyRVzXNuQ+SssQAYMrdNLHwCqXtt+yPF7cieRacIbLz4II8t+SJF2FdDY4nhbmYdDLnBa947o3HLVWWPYOWijjtd7ogAeRB1br/AJusrUY1I+kipAO6xz3m33idvkr6q4gbJJQkm4iiia4eIfr9EtKDQeORMhwYY5874nDKWgk+BAQhppLGYXOa8Zcdbm2v0stfhD45cWqmvGUdm9wA5hrSdPRVscjRhbpmn/kEWO/O1vRCeyYRUUOFQOa4jWy0tGdPRVOGVLX7DVWlMUDK3sPYPUkE3SBZHZJLUEMG0XRGPxRNFuaUuJEuQajRkLjhD3pLjqnC1NndSiBLr2WTx/41ryFkuINHo+D2FvJ9ClARAlLSStBGUKJSSUYQsuODjRuCFkHKCyCASgiCUAuIoacE9FHqktCl0jbub5hVZaMQ4oV1LgDhcRQ9vIO/J8IO7W8j6rNcI4AaipAI7jHZnnwHK/iuwTuDWgAC35ALN8rN/lGhhx6tM5XxLU9nLI/e2YgfzWsFSNjEcIc74n+8dffX4Qp3Ej+0mDPxykE+GYXVVjdZmkIGwsAPLQK+FPRD05K7/RVVDb98qGyDOSTo0blPVUhcQBuVIqZGhgaPhbvb7zuqdjaRmTSkyEWHlp4IJnK469UFemB2/heYPhRM8zSCCxjiWtGoJ5eih0WEmTPY2yNc4/2/qtVwTirXYnM42DZY5rA7AWuApHBohkhr3OAJY10jCNNyWjTpqhTlJFI6UjLQmenAqmu1kEkWZ2pIIs5JkxSRlJ7E5pHvRLc6aZdBZaTEaEPoKWS/d7V0bm+JO4Q4u4eHtD2h3+nTNkdfW5FgG/VcsqfZdw54M3w5UESW6rXQc1lsDp/ebLWxGyWztbD3jeoG3vqhJoU4QktbdLjAnIUdkrUJLlxITgiaUAUFxwovUdwN09e6bcrEBmRZbiIglaZ50WVx74kbD7C3k+pTlElIFPmUwmhAJTSgVxIoN0SCEtpQIXFhITo2TYTwaoZIgtU7Dm99ul9R+aZiYrzhGkMk+g2N/qg5J1Gw2GFyOs8NUIp4WtHxO7zjz12BUvEaqzHHTYpUdIbc1SYjhkrnEgmx0A5WWI3bbZr44Rs5zxRIWTg7AC49Rus62bUuK1XGuHvacz98th8xostUUxawdSVr4KcELZ72bI/a7nmdPIJcbM+l7NG5SXUpDc/Xb52RS3a3KPVNCXPYh82pyjTkjTHZlBTwD2f6LHsHxRRzNJa5znNv/L1RUNdLCHsYbCVgY7xF76fILVYrSxuwimmBOYyGPLpYFp72qfreHWtlonBwLZ+ztbp5Icsn7K6JvgzFViUgibTuBAZJ2lvEq1r+KBLNLJZ3vIREL6EHK0X8u6fmtAzhgf8AkKiJzRZsT3W30LdD5qgj4d/ge3Lbe+Aa/mW6gj5hD3iwmrRGwhwD2jnl1WjZdZnC6UtlGvgtdCwEJbM1Y946+I3KOiTG8hPOYmnhBGBZcm73RhEVxwC1AoB6BspRwhE9GiepIDAWcx+ILRDZZzH0TF7APIXxM8gicgFomQGgUEFxL6AE81twmVJaNFVstEIBPxNRMjCdGioESHhqD6XW6+y3D/ePcfwfmVjKYA6bX/RdR4Ah7KN73jLmyht+YF/3SfkTqNDeKD7RtmRhMvhuhSVQdspmllnfRZuUWc5+0Ki91c8jf1WOxHDNIwfwZnW5BdR4vpBJHlOxsLrDYzFs0fdIYT1G1ro2HJrwPQW8bZh8SaAWsF7aW8kdPhpcC/8AzU2AUvGgDU5Wgb5W28rWWtGD3a2MC2mbzyCyflm0iv6LLCpyf8MPJhbwbWQVw4am+pufzQXLKw/4IGX9vk7JsF+41znhvieatqjiBzxSi5/h2tF/J91IwXhuV1aaYxlz2Zi5lwLaDU/NIwzAnH2kZCTGHC9vhIKanKJixTLtvEwdXzVOYlj2PYDtcFlm6I6bGGtwwQZhnFSXZeeXJe/zVCzApBDHIB8biL9NbAK4k4WIlnadQyHMLXHesLem6C9bCEPCZw+TlrqrtunNZvA6N4lF+i10cWiWzVY94/qNAlBr+qNzbJBKEGDc7oktN90M1kZXEjT2oNRyBIUnB5CianHHRJspIYrRZ3iKyvzss7jhubImL2AZ/UzhQCXI1IC0bMmSASghZKY26izkrHGBPtYU/SQaK5wXAJamTJGNtXOOzQguaXYxGF8FCSVNoMOllcA1pA5ucLABdDbwxT0rCS3O/m536DkszXYk4uyt0AQH5F8RRpYvCVKUi2w2ipqZuYkSSc3HYHoAm6zG3vOhsOg/RURnJ3TjWE2AS8oN8sdgoRVI6HwjiY7LvG5BstNDW35rn2BQOZlB2vdS69tWxxMD+7vZw+l+iVq5UimTApcmvxYh0ZC5/iru8Bf79yOtkb+Kall2zw+Tm7qrqcSbIcw+u6usclInGtY0Z93+5a7b3tx810Kll7xudAyQX9Lrn+W5J5h1/qrs4pa9ubHfOyYzx2oHBKNlY3D5Hd4PygkkC401Rqklqzc621PVBMqEqFXlNThXEYbjD6su7jpJLnq3LZot6BP8G473q/MQO1jkePMu0+hWGii7ucdbW9FNijLLci4fqjZFGjMgmbuXGP4COIEZhPfYXAGoVjieMA1M5zANdTBgPLMWt6eKxtFCXSZXXtr6WCmU9Key7U7Z8gHkLkpZ19DKiP4RAcwO2is3aKPh0neHknJ9ygz5Y5i9REjbpLPFFG/VPCMFVCEZ7U2HKTIyyjvdqpRIHIgEkyIdp0ViBxlijfom2i6I3XUQJleqPFFdPaVX18XdRIcMDl5RnDHcpuSNS3tsUy/VN2ZzRFLE/C1ORsT2QKdiUiXQBdm+zynjZRZ7Xc95zemwXGaV4t0XQuCMZHYSQA98XkYL7i2oHySudOuBjHDZpFzxxA7s7s5rl7gb67rpOCY4KjNBMAH65Tyd4eayPEdFklNhoUridGzCDcdH2ikGqvOHqEyPsBoBqVSublN+q6vwfhoZA134hdWzS4A3pdjdPhoaR5KcKcblWT4NdEiZuiQpkfncjL4zhIfqCszUYIQ7b/4t9I3qok8QKmOSSGYNNUzl9dRmNx8b/TZU1S5zXeH7rpmKULXCxWJx3DrA2OyfwZtnTA58fHBkZDqb9UFJfGL6lBaimjIeOZq4MOgGFdqWntvaDGXX8z+Ss66CnbFhsoYMzsrpOjmh1iCOe6y1RXO7MxDVhf2g/qtbZPYTVvkyMebtibZg6C97eaXmuLBrukdV7OAYk60bcpgItYWzBl9lmXTtdQloygtqCbW73fvt4Jt9U9x7QHvbX8xZTIMJGZzdssZf8hslUwziVmEMIeOanyRm50unMKh7wNrdB+6tJI7clST5GsbpFIIreaPIVYVNP0ChzRndVsKRnBMTCykzkADmoc0isiRiYhN5HC1wR6Lc8A8PMna+Z4zZXZWA7Xtcnx3Q47w3K1pAsQTt5KJScSkJxlJxRkaCjlkuI2k9baD5pyane12UjvdN1t6eiMVLHlFrsBOm5I5rDzV5hqRIeR1HhsbKim26CqKasFRQTNbncxzW8yVArvh1VpiPEgluxt8pOt+dlpMJweBtL2kjQ572k3dyHIAIim4vkFOCrg5fNEFEkpleVlMLucwbE6eF1XNePROQnshHLjcHyQxCQide9lMcbhM26q4OhpzCn6KrfE9r2kgt10/Io2MBUuiw980jY2C5JA06cyqya15LwTtM6FhNIx7RMW5S5rXN8Da5UXiqG9jpyWsmomsibG37rQ35BUcuBOfoXLJ2+TZt4sl8sxVLQOmmbG0bnXwHiuxU0YYxrRoGgALPYThApwS0XJ3cd1PNbyXZMmwLJDeXBaiVIlcFVzVw6qI/EQDa6GRHx32Tqojkq6pnACj1WJC2h5qlrq0WvddGGzGYxUVyO4pWWWQxSt3CcxHELrPVVQSn8GEUz5qVDb3tvqEFHzoJ7UzfyG3wTg+R1f7FM5rXtZn3uDoNFbcKcNxtqKxj3AmNhLTyNjqVU4txIWYxJVMddocWA6/Dly/mEfDuMva+WV2vaNdGf7juhZLoHFtsvJIIxQiWxztnynxBP7K5xbEY2VB00dTBmn4nNFlTS0xdEIxsTm9bJHsbnM7R2tiG+Og0SwWnfLJeES6gD1KsZJbFU2GOyv381ZzOuhyG4LgcfIOahTWOgRyjS5TMDgXNB/EL+V1VBX1Y1JhUjhnGjRzcbX8lAqcLkAzCzm/ym66djOB5mXHw20We4egDn9m77t8wVJTlGVFsThLG5/aLX7KZvcSM6Pv8wpHFWpsQN0nET2TPc9zLrZunzssxV49JJJlkA5EEcwpnk3SAeN4snk3XR0CanBpm2/APyXF+M6XJNfTUX+q6rw5iXaRuhd90XB6hcw+0YHth47fNEjTmqLePGUXOEjHtk79td10CsxJzYGt5ZBb5LnMr7PFuq12NYgx1NFl+INAI8UfPC6IwvuyvjkvcdQfqqN77Eg9VYUsllAr6Zzbu3BPyRMVRdFfJi5RtCRUDYIzKojUZ1TKRnbFjTygLp/2Z0LeyfNbVzsrT0A3XJKW5IaNTyXSeE640kPZySNuTnAHK+4SudcUN+NjlM6E6KxsibAFR4TxOyY5To4fUcloaeUOWZKNDEozh2OiDuquq8OG/NaHLoq6qKmUUgWLLLYxWKUjhq1ZmrrHt0N1vMQZe6x+LxC/0XQas2IzbiUb8UOt9lEkxG4OqVXQDU2sqWcJ7FBCebI0Jqpb7KE4px5TRTsUkZeSViLoIi1BWAl3DhU3Zdp2biy/x201Nt1pqfAZo+w7RuUSlgDuWqvIa0HCOxA17YM06HvC/zT2JMfLBRgOHum3dr0ck5zb7CrjotqDCmsqvZ5XX90XNI8ufoo5mj9ikDdff28ba2UPFcWPtJqGG9gGAHmMtiqeGJ+YsF9s5HLT/AKKEiab7HaPSTXzUzOL3UGgZd/UWUnKblDl2PwS1H3yXbZQ3aHRPSPsEy5yqgtfR1/DpRLSMd1YL+Y0KymDxAVEt9C4aehUzgHEQ+F8J3YbjxDlKrsLdmzs+Ic/3U+Q7aaM7C9HKD+zF8dY0+G7G8xv0WTpsTL2XO7dfQ7rWfaHhRewSgaga/quYwTFhXYsalE2MMqimujouCY+2NzS42B7p9diovFFF7TnmDhlYcrQOexJ+qwM1YdR0V7w9jJDXxkXDxe30RPxOHJV5Iyk39mZqRY26FPyPJFuiOvj7xJ5m1kcbQR9E32uTPlxJ0PUgsLp2rnFiD97S36qO45W2UcEvdtsqaW7C/lqOocNCDve6TLQOBsCFPiao1W/vgKynK6Kfhg4chU8Zj7+noluqydbpuR3dPkq6nfqR4q6htyyjn+KlEtoqtzTmaSCFuuE+Lruax557rnjCplCQHA2sgZcUWg0c23Ej0HS1ocLgpuaUELFYBjVmhpPLdXwqrjdZcm0X/wCOk7QqsKy2LN3V5PMqLFZguh2OxVRMtiDdLrP1RV7iMmiztQdVp4EI+QyM5IclvSU2ZshFkEaCkpwbOkDopBAXZml31AV/DndmEbSQ0HbWwVm2mghxtkYF2kFpDjcZ3AG6ajxtsdZiDW2DTBIWchmZoR57pNq2EWT9IhMwv+E9pL95cpb62VjiTooKksGxpAB/W61vosRRcQO9k7DUu7cvP9JH7q2FUah3bn+VhPk236KHCiyuRPw8Wl20IU13NQMPbeUeHVTZzrZLTXyHsfRGqG38lHcLKY0aJmRoUIM+CdwpiZhqG8g45XDz2+q6pJI1rSTtZcT2dcdbj0XQccrH+yCQbOYD5XCmT4Es2BTyRX7IGOYtG55icRlcCPI8lgeJ+HhDE17dQdCqqesJLr81Mg4j/hnwSgv2MR/D1uiYoSTtGg6xLUyr90cMz2G7TZKdqTfqgxuqf+uTNk/lwJe43u43Uyn2CZkj0Ud4soSUiqlRJnnubdN0uF1h4qFbUJztFLiRF27LGGXqo9T8aYfLYX+XmigeeaqofYR5Poek2VbD8R81ZzjRV8I/NXg+GCydkhjlJifZRE6wqslZMWXVJiJGl7K/osfOxKxeZPRypWfjpj+LNRvHYpm1uq6trSRfwss8yoI5opaslBWCmHeXgRVS7qqkdqnppFGdunoRpGfmlbEPSQjKJFFWEiQzIlJSjVvxySaodVCzXZw61zobbJ6tgfO0Pb8T3EWHMuOo+qsME4dYcPlqi/VriA23TZXGImGOhoZIwM5cHPd1y6uBSsmv8l7rgoMM4QkdWuhceytGXG+o+HZSKNzI6SRm8jagAHlYA/srvH8Zaa3tWd5gY1pt97u/uszBEX3A2uXHpfkfqqbN9lorgn8P1hdKQ4equXC5VbglKS+/lbxVlLe6Vyv5GhhXxEOaor1JfIm3NvqoiEkRaSnzysj/ABODfnuuu4rhrXU/ZgaBuX5Bc/4Lo89U11r5Gl3rsF0mjnDs7TyKKqqmZ/lZGsia+jhHFuECFxtfW6yLnW0XYvtCocwJA2XHpW2d6onjytDmaW0VP9gY2+qkUsB6JTGWVxRStaw3AvbRFlNgFD7ZXmIbKHLT7kKxab6+iRWNtopi6KSiinDNbdUuVllLnjym9lGmGbbzRU7B+oULQ8kHx+aRCyyNkLhqL2ujapbOQ7MdPRQsllMcw2KaezY+CqmWlBtjYKcYkNYltFlJVRodSgUhqUQoCIcD0hz0m6J5VaL7MbkKZcE6U2QipAZCCkhLskKQTCsgjQUkG4hxprKeal/G6Mjxtuo0VU97I4nfDEHEf3EXujwrBvaKyOEnJmNtdxpdbDh/CYoKishls/LE6ziOmv7JOTL2kzPCjeYe2ykR5smble9laVtOyimcwHMHwi38ue2/yUCsxMtw90LTr7RmH9O6rq/EnzjtnWuA1nnlboqpMm22aLh6Qaj1TlU7VU/DExLtfkrisd3ktl9jQw+o0HdUcbv+kLApJbYeSpEK0bL7O4Luld0DR+d1fQSBsrx1CgcAACBzurj9NFKBDpnNH4f1RJ9KjJlzknZQ8Xu7rlxash95p1XXuLHloIK5XUt7/qu8aT5NNRvFElR0Gnoi7LQnotFhVPeO56KtxiIMjNlaOXmiZ46XBQdva6NkhccxULOn2vsnKEWPueHbpgQXNh1S/FTYKF2XOdNLgc7KG6K1YVe3uho3/RV3Y2U+Q3CSNfRcmEUSsrqjJYDzPkigqWuGot+Sh1hzPJ/yyRGbJjT4ibzy3LXIEfZKA2ct1G3MKwp52u208EKUWhvHljPgLs0RapXZoZFTYNoRCxFlUvIk9mu2IcOCG5qbIUx0SYc1XUgTiRnBIcE+4JmRETAzQygiIQVwZ2njNobitFl0u5t7aX73goD3H26s/olQQSD6Ry7MriI7o8v0UxjR7BHp/wAh3/oEEFddf+hF2P8AC+581bVO6JBJZvc0fH9Rpm6dOx8kEFWIVm84O/2rfN35peFf7l39J/NGgrvpGS/aZUcbDQrl9veIkF2Htmnj/wCqJq6D/TPkqvir/Sb5I0FTH7hpepiW7+qdCCC1GZbJFIO+3zH5rS4sNHeX6IIIM+yEUUW3olxc/JEgrBV0Z2o3KYYggnf8oyn7C5NihFuPNBBRLoJD3L2m+EI0EEk+zWXQRSEaCgl9ATD0aCvHoDIivTMiCCNEBMjuQQQVwJ//2Q==KETIKA seseorang melakukan dosa, biasanya dia dihinggapi rasa takut terhadap Tuhan. Rasa takut pada Tuhan ini ada dalam dua perspektif: negatif dan positif. Tentang rasa takut dalam perspektif yang negatif,  ada dalam Kitab Kejadian 3: 10. “Ia menjawab: ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada di dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi. ”Itu perikop tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dikatakan, manusia itu menjadi takut karena telanjang. Ini alasan yang kurang relevan. Apa hubungannya takut dengan telanjang? Telanjang itu biasa kok. Orang kalau mandi, kan telanjang. Tetapi, apa yang menyebabkan Adam menjadi takut kepada Tuhan sehingga dia harus bersembunyi? Ini takut yang negatif. Takut yang positif adalah takut yang membawa orang datang kepada Tuhan, bersujud di hadapan-Nya. Sementara Adam menghindari pertemuan dengan Tuhan. Di sini kita melihat bahwa rupanya kejatuhan ke dalam dosa itu adalah sumber pertama yang membuat manusia takut berhadapan dengan Tuhan. Sebaliknya, dalam ketidakberdosaan, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, tidak ada rasa takut, karena pertemuan dengan Tuhan adalah sebuah kegembiraan, dan selalu dinantikan. 

Takut karena dosa yang membuat orang melarikan diri dari Tuhan, itu tidak benar. Takut akan Tuhan yang membuat orang merusak dirinya, merusak lingkungan, mempersalahkan sekitarnya, itu tidak benar. Mari mencermati, apakah kita, saudara kita, atau teman kita ada pada posisi itu? Jika Anda merasa takut akan Tuhan sehingga takut untuk berdoa, lalu mencoba membunuh rasa takut itu dengan bersikap masa bodoh, lalu tidak mau tahu lagi akan kebenaran Tuhan, hati-hatilah. Ini bahaya yang perlu disikapi serius, karena bisa membawa kita hanyut makin dalam. Karena akan ada waktunya manusia tidak takut lagi kepada Tuhan sekalipun berbuat dosa, dan ini sangat mengerikan.

Ketika ada teman mengatakan kalau dirinya takut Tuhan karena berbuat dosa,
kita harus memperingatkan dia supaya jangan larut,membuat dia semakin lari jauh dari Tuhan. Kita harus mendorong dia berhenti sejenak menunduk malu dan mengakui dosa-dosanya, bukan lari dari Tuhan. Dalam kenyataan, banyak orang berbuat dosa, bukannya berhenti. Ada anak yang tadinya baik, berubah menjadi jahat. Dosa bisa mengubah sifat yang baik itu dalam sekejap. Karena tidak pernah cukup kebaikan seseorang untuk mengatasi dirinya dari benturan atau kehancuran dosa. Pimpinan Tuhanlah satu-satunya yang bisa membuat orang kuat, memproteksi dirinya dari godaan atau pengaruh dosa. Kalau hanya sekadar kebaikan perilaku, kedewasaan moral, itu tidak akan cukup kuat, dan akan jebol.
Makin najis
Orang yang melakukan dosa, mula-mula gelisah, bimbang terutama saat mendengar suara-suara dalam hatinya, yang berkata:  “Kamu sudah bikin dosa, kembali pada Tuhan”. Lalu ada teriakan lagi: “Bagaimana mau kembali ke Tuhan, kan sudah bikin dosa kok malah kembali, mana kamu diterima, mana pantas ketemu Tuhan lagi”. Dan celakanya, biasanya orang cenderung mendengarkan suara kedua. Maka takutlah dia untuk bertemu Tuhan, lalu meninggalkan Tuhan. Tragis.

Jika orang semakin jatuh ke dalam dosa, ada kalanya makin kita benci. Nah waktu kita makin benci dia makin jatuh. Dia makin takut kembali pada Tuhan karena merasa makin najis. Rasa takut semacam ini bukankah sebenarnya juga pernah terjadi dalam hidup kita? Tapi hal seperti ini terjadi pada orang yang secara personal belum mengalami pertemuan pribadi dengan Tuhan. Orang yang sudah mengalami pertobatan, kalau sudah berbuat dosa, perasaan takut pada Tuhan biasanya bisa membawa dia kembali pada Tuhan. Karena itulah kita perlu bijak melihat setiap orang, dan sebaliknya juga perlu bijak memahami diri kita, supaya tidak terjebak pada perangkap itu.

Kadang orang yang takut kepada Tuhan karena berbuat dosa, ia lari menyembunyikan diri dan berkata, “Aku tidak layak bagi Tuhan”. Dia menghukum diri dengan berkata, “Sudahlah, ini salahku, ini risiko yang mesti kutanggung, sekalipun harus masuk neraka!” Sepertinya patriotik, punya rasa tanggung jawab. Dia mau menunjukkan kalau dirinya gentleman. Sudah berbuat dosa maka dia tanggung akibatnya. Semakin berkata seperti itu atau melarikan diri, semakin kau membunuh dirimu sendiri. Kau tidak sedang berbuat apa-apa, tidak sedang menolong apa-apa. Itu hanya kesombongan karena kurang mengenal Tuhan yang sejati. Dan bukan seperti itu yang diinginkan oleh Tuhan.

Kalau berbuat dosa lalu takut pada Tuhan, jangan melarikan diri, tetapi menaklukkan diri. Mendekat dan merendahkan dirilah pada Tuhan. Melarikan diri dari Tuhan ketika berbuat dosa, itu sama saja membunuh diri. Melarikan diri dari Tuhan, itu justru tidak bertanggung jawab. Yang bertanggung jawab adalah datang mendekatkan diri kepada Tuhan, menaklukkan diri kepada Dia. Jadi, takut pada Tuhan yang negatif yang membawa kita melarikan diri, tidak diperlukan. Rasa takut pada Tuhan seharusnya membawa kita datang dan meminta ampun dan belas kasih-Nya.

Ketika engkau terpuruk, semakin jatuh ke dalam dosa, sehingga ragu-ragu untuk kembali, takut ditolak Tuhan, jangan melarikan diri. Kembalilah kepada Dia, kepada kasih yang indah, yang manis, ajaib, dan luar biasa itu. Karena Dia yang kita takuti karena kita berbuat dosa, adalah Dia yang siap untuk mengampuni. Kembalilah jangan lari jauh. Jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti membaca Alkitab, karena sudah dikatakan: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan diubah-Nya menjadi putih seperti salju.”v (Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)

Buku mati tiga kali bagian 8 Pdt. bigman sirait

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQTsLKMmmwoAvAkYFDpz3NvzhnqY6vFR-2YgbuWR6WAeuWaLW2iHidup Merdeka; Hai Maut di Mana Sengatmu?
   
Merdeka, berarti tidak dijajah. Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang, dalam waktu yang panjang. Perjuangan para pahlawan yang memberikan kita kemerdekaan. Semua bukan datang begitu saja, tapi dengan pengorbanan yang tak terbilang, yakni darah para pahlawan. Mereka layak disebut pahlawan karena berjuang tanpa hitung-hitungan, bahkan tak sedikit yang justru diabaikan, dilupakan. Peringatan yang diberi hanyalah seremonial belaka, karena tak terlihat dalam kehidupan keseharian, dimana orang kebanyakan, para pemimpin, hanya berjuang untuk kenyamanan sendiri. Sungguh menyakitkan, tapi itulah kenyataan.  Mereka yang gugur di medan juang kita sebut pahlawan, pejuang kemerdekaan. Tapi di perjalanan kehidupan berbangsa, kita hianati, karena berlaku sebaliknya dengan semangat mereka, bahkan menjadi penjajah bagi bangsa sendiri. Kemerdekaan orang percaya lebih lagi, karena di merdekakan dari dosa, dari binasa, dengan pengorbanan darah suci Yesus Kristus, di bukit Golgota.  Kita yang percaya telah dibenarkan.  Yesus Kristus berkata; kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:32).  Kebenaran akan memerdekakan kita dari kehidupan dosa.  Kita dimampukan berkata tidak, Kepada dosa!  Kemerdekaan ini juga membebaskan orang percaya dari rasa takut akan kematian. Karena mati bukan lagi persoalan serius, karena dalam hidup benar, kematian adalah hal yang menyenangkan. Mati bukan lagi sengat yang mematikan, karena di kematian orang percaya ada kehidupan yang kekal.

    Rasul Paulus dengan tegas berkata; Hai maut dimanakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? (1 Korintus 15:55).  Sengat maut tidak lagi berdaya terhadap orang percaya. Sebaliknya bagi orang tidak percaya, sengat maut mematikan dan membawa kepada penghukuman yang kekal, itu hal yang menakutkan!  Tapi kemerdekaan oleh kematian Yesus Kristus membuat maut tidak lagi memiliki sengat, kerena kematian justru berarti kehidupan kekal.

Kematian dilukiskan Rasul Paulus, seperti biji gandum yang ditaburkan di tanah.  Biji itu harus mati, agar ada kehidupan, sebatang pohon gandum.  Ah, indahnya. Di kelas sekolah minggu, ketika saya mengajar dari tahun 1981-1995, menugaskan para murid untuk menaruh sebiji kacang hijau dalam botol kecil bekas obat, atau botol apa saja.  Memasukkan kapas ke dalam botol dan memberi air secukupnya, baru kemudian meletakkan biji kacang hijau. Dalam tiga, sampai empat hari, saya meminta mereka melihatnya setiap hari. Ketika hari minggu tiba, kami berbicara apa yang terjadi dengan kacang hijau mereka. Masing-masing murid menceritakan hal yang sama. Bahwa biji kacang hijau berubah warna, tidak lagi hijau, tetapi menjadi kekuning-kuningan. Dan ajaib, dari sana kemudian sebuah kehidupan, bukan lagi biji kacang hijau, melainkan sebatang toge.  Ah, pengamatan yang menyenangkan bagi murid sekolah minggu. Dan, dari sini saya bercerita tentang arti kematian bagi orang percaya. Harus mati, agar ada kehidupan yang baru, kehidupan yang dirindukan.   

    Hai maut, di mana sengatmu? Sebuah pertanyaan heroik, mempertanyakan maut, karena memang sudah tak berdaya. Kematian, memberi kehidupan.  Jadi, sudah semestinya kita hidup sebagai orang merdeka, agar mati adalah kehidupan.

    “Merdeka, bukan sebuah teriakan, tapi perjalanan kehidupan”

A.    Mati itu penantian indah

Mati sebuah penantian? Siapa yang menantikan kematian? Rentetan pertanyaan pasti sangat panjang. Terlebih di kehidupan jaman ini, di mana manusia berusaha keras menambah masa hidup. Berbagai usaha medis dalam teknologi tinggi dikerjakan. Tak ketinggalan menggali rahasia umur panjang manusia di masa lampau. Semua berlomba mencapai puncak tertinggi untuk memenuhi keinginan manusia berumur panjang. Jadi yang menyebut mati adalah penantian pasti ditempatkan di posisi manusia tanpa harapan.

    Memang bisa jadi ini di salah pahami.  Mati adalah penantian, bukan dalam konteks menyerah tanpa daya terhadap tekanan hidup.  Juga bukan karena terserang virus yang tak tersembuhkan.  Atau patah hati yang sangat menyakitkan.  Mati adalah penantian juga bukan berarti hidup tanpa usaha. Jelas Alkitab tak mengajarkan hal itu.  Sebaliknya, semua orang percaya diminta untuk bekerja keras selagi masih ada waktu. Bagi orang percaya tuntutan hidup berkualitas sangat kental. Efesus 5:15-16, mencatat dengan jelas; Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.  Hidup adalah kompetisi untuk menang dalam kebenaran itu perintah Alkitab.  Jadi, mati adalah penantian, jauh dari sikap putus asa, lemah tanpa daya.

    Mati adalah penantian, wujud kesukaan atas kemenangan di kompetisi hidup benar. Hidup yang memakai waktu secara bertanggung jawab. Hidup yang berkualitas bukan hanya hidup untuk diri, tetapi sesama. Hidup yang mewarnai dunia dalam estetika tinggi, yakni keselarasan perilaku dalam ukuran kebenaran yang baik bagi semua, baik untuk dunia. Tinggal siapa yang melihat, dan berjalan di sana. Maka di jalan itu, mati adalah penantian indah, sementara hidup adalah maha karya. 

    Matilah selagi hidup, maka engkau akan hidup ketika mati. Selagi hidup, matilah terhadap dosa, itulah tiket penantian indah. Maka ketika engkau mati di dalam iman kepada-Nya, itulah hidup yang sesungguhnya. Jadi, jika telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan DIA (Roma 6:8). Jalanilah hidup dengan benar, nantikanlah mati dengan indah.  Bukankah ini luar biasa. Renungkanlah, dan jalanilah. Selamat mati ketika hidup, dan hidup ketika mati. Jangan lupa kuncinya ada pada DIA, Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit.

    “Jika kematian menjelang, berikanlah sebuah senyuman”

B.    Lolos dari Kematian, Bukan itu yang Hebat, Tapi Memahami Tujuan-Nya

Lolos dari kematian, semua orang menyukainya, apalagi menceritakannya, terasa heroik. Tapi disinilah terjadi kesalahan memaknai lolos dari kematian. Di atas telah kita singgung prinsip hidup Rasul Paulus dalam Filipi 1:21-22; Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup didunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.  Jadi mana yang harus ku pilih, aku tidak tahu. Bagi Rasul Paulus, hidup atau mati bukan masalah besar. Dia melihat semuanya sama bernilainya, baik hidup ataupun mati.

    Kesalahan pertama kita sebagai orang percaya adalah melihat bahwa hidup itu lebih indah dari kematian.  Hidup justru mengerikan, jika kita hidup di luar Kristus. Sia-sia, itu bahasa Pengkhotbah. Tapi tidak jika di dalam DIA, dan melayani-Nya. Sebaliknya, kita takut pada kematian, karena dunia menilai sebagai kehilangan yang tak terkembalikan. Padahal sebagai orang percaya, hidup adalah melayani DIA di dalam kesementaraan, dan mati adalah bersekutu dengan DIA di dalam kekekalan. Hidup atau mati, bukan persoalan. Dengan SIAPA kita berjalan, itu yang harus diperhatikan.

    Jadi, sangatlah penting bagi setiap orang percaya untuk meluruskan persepsi yang salah. Kematian memang menyedihkan, berpisah dengan orang yang kita cintai.   Air mata dan rasa kedukaan adalah kekayaan emosi manusiawi, selagi kita di dunia ini. Tapi jangan lupa, sebagai orang beriman kita memiliki harapan yang menembus kesementaraan. Sudahkan kita memilikinya.

    Sekali lagi, jangalah terjebak hanya pada fenomena lolos dari maut, dan menjadikannya kesaksian yang seringkali terjebak dalam sensasi yang diberi baju inspirasi. Belajar seimbang dan seutuhnya memahami warna-warni kehidupan ini sangatlah penting. Bukan soal apakah kita hidup, atau mati. Bukan juga soal lolos dari mati, dari penyakit yang paling mematikan. Tapi untuk apa kita hidup? Apa yang dikehendaki oleh-Nya, Tuhan Sumber Hidup? Inilah titik yang tidak boleh hilang dalam pemaknaan kita akan kehidupan ini.

    Itu sebab, belajar memahami pesan Alkitab tak boleh berhenti. Bahkan PL dengan tegas mengingatkan setiap orang beriman untuk mengajar anak-anak mereka tentang Allah yang Hidup, yang melepaskan mereka dari perbudakan dosa.  Alkitab berkata:

“Apa yang kuperintahakan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan mebicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6-7).

Sejak dini mengajarkan Firman kepada anak-anak, di segala waktu, tempat, situasi, menjadi panggilan orang beriman. Bagaimana mungkin mengajarkan kepada anak-anak, jika kita sendiri tidak pernah memahami Firman-Nya dengan benar.

    Bagaimana kita akan mengerti makna hidup dan mati di dalam Yesus Kristus? Bagaimana kita memahami tujuan mulia dalam hidup ini? Jawabannya, sepenuhnya ada dalam Kitab Suci yang selalu kita bawa dalam beribadah. Tapi sekaligus juga Kitab Suci yang mungkin kurang , atau salah pahami isinya. Tapi selalu merasa pemahaman kita sudah benar. Dan, celakanya pemahaman yang salah kita ajarkan kepada generasi demi generasi.

    Mari kita hidupi hidup ini dengan benar. Bukan soal miskin menjadi kaya, bukan soal sakit menjadi sembuh, dan juga bukan soal mati menjadi hidup. Semua orang dunia juga menginginkannya. Tetapi menemukan tujuan hidup dalam situasi apapun. Miskin, seperti janda miskin di PB, tapi dia tahu tujuan hidupnya, dan dia beribadah dalam pemberiannya.  Atau sakit, seperti Rasul Paulus dengan duri di tubuhnya, atau Timotius muridnya dengan gangguan pencernaanya, namun mereka tetap pelayanan. Atau Lazarus si pengemis, yang  miskin, sakit, tapi ke surga mulia. Atau seperti di PL, Nabi Elisa yang terkenal dengan penyembuhan kusta Naaman, panglima raja Aram (2 Raja-raja 5:1), namun menolak hadiah besar dari Naaman yang seorang panglima. Nabi Elisa yang dalam pelayannya dipenuhi mukjizat Illahi, tapi menikmati matinya oleh penyakit yang dideritanya (2 Raja-Raja 13:14).

    Jadi bukan soal lolos dari mautnya, jelas sekali bukan. Tapi soal tujuan hidup melayani DIA. Awas jangan salah memahami, dan kemudian salah melangkah.  Ada banyak orang yang terlalu berani dan banyak bicara, tapi kehidupannya, baik pribadi, keluarga, dalam tugas yang diemban, tak dikenal benar, bahkan sebaliknya. Isilah hidup dengan benar, itulah makna sejati lolos dari maut, yakni hidup bukan dibawah kuasa dosa.

“Hidup beriman bukan sekadar soal mukjizat, tapi apa yang kamu buat”

C.    Jika Maut Tak Lagi Bersengat Karena DIA, Mengapa Tak Setia Melayani-Nya
   
Selanjutnya giliran Anda merenung dan merumuskannya. Semoga menemukan kenikmatan dalam menjalani kehidupan ini di semua aspek. Entah berapapun umur yang ada, atau bagaimanpun situasi yang terjadi, semua itu Tuhan yang berikan. Saya lolos dari kematian tiga kali, tak terlalu penting. Tapi hidup yang diberikan-Nya, itu yang penting untuk setia melayani DIA, hingga panggilan surgawi digenapi. Hidup yang diberikan NYA, harus kita pertanggungjawabkan. Bagaimana dengan anda? 

“Maut tak lagi bersengat, sudah semestinya kita hidup bersemangat”

Buku mati tiga kali bagian 7 Pdt. bigman sirait

data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBxQTEhUUEhMUFRUXGBcYGBgXFRUUFxcUGhcXGBcVFxQYHCggGBolHBUUITEhJSkrLi4uFx8zODMsNygtLiwBCgoKDA0MDw8PDywZFBkrKyssLCw3LDcsKzc3LCwsKysrKyw3NysrKysrLCsrKysrKysrKysrKysrKysrKysrK//AABEIAOkA2QMBIgACEQEDEQH/xAAcAAACAwEBAQEAAAAAAAAAAAAEBQIDBgEABwj/xAA5EAABAwIEBAQEBQMEAwEAAAABAAIRAyEEMUFRBRJhcYGRofATIrHBBhQy0eFCUvEHFWKyI3KCFv/EABcBAQEBAQAAAAAAAAAAAAAAAAABAgP/xAAaEQEBAQADAQAAAAAAAAAAAAAAARECITES/9oADAMBAAIRAxEAPwD6NiuItaBLh42CyXG/x7hqR5fiAxnF18T4v+KcTXJ56hg6Cw8gkpcszguvqXG/9VXGW0Gx/wAisfjvxliav6qro2Fvos5K9C1kiaMq45zs3FUl/VVBTa1Ednou8y8GKYYiqzK8GogMU201AN8JSbSRICmGIgQ0l4UkXy7rwppqhBSXfhIvkXfhoAfhLgpozkUQ1AOaa4GIstUbIBw4hSGLcFY4KJpKo5+cGrVIYhmyHfRVLwnQY/If6oXRhgcnApXzLrXIGD8IR1UPgO2VVPFOGqu/PlAuJXgVxShFeCsAUAFe1qqO0qauLYXWBelQQXGuldLeqgOiC5rTupCmqL7qwE9VFXMJVjDKg2t/d5qzl2RFrQpBkdlzDO3RfKNlFDGmvciKNPNV1GwgDeAqnFSrOQ5erBNda3qqCSSpspzkgtjZcDYhVukdFZSqTmqOuAyQuKpo0U4Q1cSUABaowjfhSh3U4REAF1Sa1WfDQDAKYC40KcIqICKpNsqWsRNKyItYAuOIAUSRGWqh2CKialx9P3UKlUlWch1CvpUQc7IgQObaSc79kVTw8tkb2nZEt4aM7K74DozUUuY1E0WkW00Xn4R2eyuw05OCDgai8I6bKmNPJcYCHRKgYvbZBYq0phSZYIPiFPomhJVdJsq3dFd+XJ6IujhWj3fyVClrxfmnwtdeFSSIt7zT7/a2uXRw1rUC25GUnddbSycmDqc2Fgh2Mc0mBIOhCCBcq6rLhEmmRoGT0J9VCtTEAzJ1QV0moesy+SOpNtbNU1me/skA1OirfhKxoXucboFjWqXIpQptarURDFfTpLwCJw7PNRXGUgrhS3VwbHdea1AK6jsowQbiQjjT6KssQRZW6HJTY7up0mkZK0A7IKwwrrWmbXRNGgTp79wiPhhvdQLzTg3UqVEucrqlPL9kVgqN0BNGhZBcQppqWILGMUikApxKsbS2zRfwbqfwLKoCa141PvopOJ3VzqbpG2/2VxpyFNAjSVbJhENwl8lJtLomgd7jEOEhB1KM5Jx8KVTXw8CYTQqaLIbEVgOqY46l8hI8VnqrlqCdbEEqrnUFyVrAUrQ1QDVexiyOsYUxwtGB1VNJmwvomlJsCBc691BQzD7+PZEChsETQo+f+UVSoZDU6/dRS59DbzVNSlGie/kyBYeG/dDVMCc476b5BAqp09+iLDRAsPfRWjDGciimcPJGXigUVnPLoBhuke9lfRY7VN2cKaBczl1UnUGNEIhWacorB0l3kE2V1JvvVRoUAyLuE+sJZjWAG2X2R/wrSfBC41tkgWgX8Uxp4dpASwFF0q/qqi12FB1/wonCEfbZVOccwUfgMYH2NiM0RRTprr8PbumL8MCJauCjlIKjRcGbrzqUi6YihceS5UpadFRncRQhjlja2ZW94ozlYeiwNY3K1xZqMry4urWoZNar6dOyi0Iqm1ZURgaV01p4O0jx7IHCBN6bhymVmjtGlJ6I/D0r76eChRp2HqiKTxEzbLrHuEUQ9lz99eyGztp4GylWxWnuEs4hxINbYx70UUTXrMZfXzuh/wDdychA/hZ1+LNRxRlAe9FWTCpjSLbqIe5yUGrD7nVNsFjAI9iFQSykRoUVRokkSiKWKYRkFa3EtBkfTXRZaENwg5c/cJViaNjfKUdUxls5tkl2JxP3UCfEMgrjgYC9WEn6K5kRdaZCUql81NpIPWVSHAuPdX1X5Ipxw3GyYmE6FKQLBYmlX5CCFs8Dig5kpYRJ1HsqajbX6K9zodbJRxTgGk5KKyv4irf+MrBvWl/FGKvyj2FneWVuM1XC7HRWNpqfwwgZ0mzfNGUgh8HTsj6dL+VATg6U9/omICFwWu+iOoumNlFgimPlXGvjP3spudn2CXYqvyguOQH+FIVzimODAszVrueTOWy9Wququny7bomhQEStI5Rpx5Ixr/FcZQyHbyOUohtGWzHTxOiBZi6U3QQrvaU+dgzHTln7fv5IV2Bvf2UAA4q8ZhHYXjmQNu6HrYGyDqYRA+dxSVX+dlJWMcFdTpPdYWQH1caB30CHFV7+gROG4br5yjHYTlMT9lAPRowFaaRg+wieVu/WFBzm3AMWznLr23RS7EgjRPPwtiZaQTMemyT1TyTYCMuv/wA5ZI38PkCoYyLQ49yg03NPgk/G8dcjIQNdQjKmIiffv+VkOO43mdA8VAmx1YvcSVQGK0sRFHDEraKGtVnw0wo8PJNgj/8AZ3bKasB8PpzYptTo6DX+Uuw5gAhOKWQhQVuEOiLQmeAp/ZLy2TfUhOME2xPVQD1nSXLMcbrE/LJAlPadW8Hr9T/CUcVw8k+asFGHojTUADtef+qPwVKeUEDV0d3RHkAPFLqP9Lhu4Gf7gZEeBVtWrBJAMtgxuJuPOFUGUXj5i43J+9kRTqTbICTHW4H1WWxXEHA57dLaKgcTO5TBt3VAWhvQT3v+5XjEzpIPnmsX/ux3KmOLncpg1tRoiPL1Qn5cH35++qQ0+Ln+5F0uKn+4FMDKngxKKwdBoj32CUfnzvdVVOMEf1fRMGkY8ACAIvMqjE1m5uIsfT3ksnX4uTqUHUxRKYNHiuJMGs7dCgqXFBORz+ov5pRh7m+SLw+H5nTFkwPqVMFl5j+neIyRvCKcS7oANLAfvKBaZAYMrAecn30TgN5WgbWhRYo4liOVpOuQWYNAuN1tcN+Gq+KeA1sN3OULYcK/0yAg1Xz2spo+U4PhRdkCfBajgv4Nq1YhpjciPqvr/DvwtQpCzNrnP3ZOqOGAsBHsJownBf8ATtjTNTTQLS//AI/Df2LQMYpQor8nYc2HdO2uuB0CTUwAPFHU3/N4LSGdGnMe9UVwqrbldmEPSdbyuu1rEPHiN/5UVVjaJD53O33QeMHMPBNMQ4Palk3iOqrJK0csjaSO9kQPmJMwdes5/dW43D3mFVTbCoHq8MDwdNkixOGcxxDgtnSYo4/h4qsuPmFwds0lGHUoRWKwTmOII8VOjgyVrUAgKbWJs3hJiVNnCzMQpqllOm45SiKeAJCf4ThSdDhAH3U0YCthYVELR8UwvKTsluCwZcZjsrKIYPCF0JzTpRbZFNwvIFH4ZU0F8Gw8vk6JjSpGrWaxupj1Kppf+On3HotF/pbgfi4gvIswfX2VlX1Pg/DxSpNYBkPsmYp2UmtUw2VBFjM1JrV1TCo8ApQV5dlbxH5Mp3KONM2I2QLOmt0za6Q0iFmi/CvzHmi27e/BC0okEojm92RYr/ScrZqrF0tfFGESI3mD12VQuI295ogUCeqDrM5XZWMJkKZ97bLlWgHAR4ooekTki+W26Gw9O8HRMH0rA+V1KF+Mwraggjr/AI2KWflzTOUj6LQimN/A6qipSv8AdNRXgw05H+PAoqjhgl9XBDPIzmCVZSp1Gxyv+h9VRo8DguUg5DNHVaQDCZ0Pgs4zF1xYlvcjRTLK1Sz32tYWUWEGOpmo+G5a7JxgOFhjQSmOFwTaeV9fS6squn0KaYU4qlJhV/Av4hF8nzAmy65lyooLiZt4wvqH+lOB5MPznN5nwAgfdfLcTQNSqym3MkAdyV984DgxSospjQAeiqG7VMBRaplTBGFMBcAUluRHl2VxdVwfkwWJbtcK6hiOWxNjl0OyDqU6oHz0zZU0qs2Nu9h/lQaShcQr3D36SlmAxJyOehRvxRF/8KCxj7R9TqpUKhB6HNQa6VF1j5ICufZea3UeK7TyVTzHY/VBJ7YMhWMba87iPsu0mSb3B+hVlOmWnlJ+WbHZStJ02jXTznZdDNY13VjWXOuv/wBHMLoYb75ekiygp+BnrfQ+qq+Br0622TINOm3nfdeqUgbTOxQANoE++sx2ur2sPn5Iv4XXX2FL4Rg36+OqAejRMAzf7ZLtVhsT7E7q5r8pG/Tt6r1SxMnsFACaZnynylRZGZ7nvoiHPtzBDYg8jR2k+/NWBt+AOGfFxTqrhZmX/scvT6r7Dh22A2hfP/wPjaTKYaP1Ey7qVvMPimmIKIMbsphQapNVgmF5eC8tI4pSuLio/L9SvPbrYIN+GB28B90VxLBPpGHi2hVbKo79v3UAwwRF2u8yu08YRZ4I97o6gNbDx0Uq1AOEG/vrmoK8PiMjOcQrHVb2hL6uDcz9HzDb+VQ7FwRIIPVXBo8I+9/Dqp1r2/dJKWMAI9CmrX8wm3moLMNWn5dQj2VOcEHPRJZP6hnltJzhNcGeYBzcwSD6fWYUURRnI6EeICJey0jfzFoXKbBAPUx0ymVxzukQirKQMD6Immxh0AMZb20QDDBv66ornAOkHxv7lQFRA3m/qqa7Sdf87QpCplHoPuoPqB3Yf9tSgg4WkNuBGue6i43EiSM1a3EW5Tn6DZRYPlJOc+sgZeKCNemBbQFvjZ1kg4zi4hptEAjSDb6rQYwctMTpmdJ5s1jMfV+I5xfOo7AiWkeLVYlHYLGubBFrDzH+FsuBcZqj+qRsV87wTsgStVwt0DxSxX0jBfid2rQRvP2haPh/FmPGYBXzLCYiLeRTbDYnbX3ZQfSWldWV4dxJ7RnIG+3dN6PF2kwbH08CtTkmGZUVBlQEZqfMN00fGMdh2uBa8CDp91jOM8GdRJcwSzbUL6NisOIygj9vS6T1mWyB3UMYGjiMo8kTTfrOaf8AEOCU6lwOR8aa91l8Rh30nQ8W0MW9VfQyDQYv9SENjsA17cr7/deo4hpi99pJRHxozA0gT9kGRxLXUjynLMIvAcTiLpnxHCioMo6/ystiaDmG6s7RsKWNm4zuB9XH19ERSxJby8ps6J73/YFYmjiyNTEfVOGY4QBMGOYzpMAN8ksGup8SAMCD8x8p5jfsAjHYiZ8z2JP2hYhnECOX/lf1II8o8k0o46e4+Uyb/wDFyg0oriY+umqizEQemaz44oDJJgzG+eSsp8RaP1GIIEpitNSxEjbe+q66rlIHifskT+JyAJEnXsY81KtxVruUzBI+bsJ/YqYG1VxblqJnpJXXYoMaCToeuv8ACzz/AMQg8hMWgeBkA+9klx3GCSQDk0jW5Dkw0941x4PYWgmXSD06Qs43FlwHl4AyPqlnxpfI7+iNwlOVrxDzAMWnwTbfRIuF4fJafC08srfRYrUHMp2nSAmFLITkh8PT6e/BFUmkZ7eu6imdF8ZbX/lFAgjLW38IXDNt7lF02QP5UF2AxDqb9S33omv+5t2KUfDJHX7qf5Xr6lUwkxrAAZMZ/wALO4upEyYnTMpjxHEQPncC7Jrdz21VeD4Xk59yT+5yKqErq2zXu9NkuxjS7KlbYmR4Ld/khawBM6dkJX4cJFtp7oPmVXhjheCz1HnoqHh7M8vRfRsTgBcHLwy3WO4zQ+E+2Wd5uFULW4gFV47CteIPsqx7Gu05TqRt1Ci5jmEX5hGgEqjNYjDlhgqhwK02MwragtEjqL9ErOE0WkAMqOAA0Bt5yiPzruYncz+4UnUIUm4Wck6HHY0umcyC099D5rlTGmCdXEegv6rxw0Low6dDrsU4SPEdzC58d3M6+4z3z9Pqrhhl00FAJVrGBOxA7TZDOqEq7FG8bKqiyVYCKFNPuG4eUFgsPJC13CeHZGFmkgvhuFystPgcHICq4Xw/L3utZwjhk5rDQbA4GQLZ+iKPDRAsnuGwloAtce/JX0sJEe90Uqw3DuiMHD5j3qmrKcKfKrlTSgYDORqpfk/cpqWqPwwnzSV88pcIY1wcGgkZmAZJCtcIPfLcJq/M+P0QmKz8f2QBuBz2+q6RNjmPLZX/ANPgPsoPzPvdArxVObj097rK/izDFzA6MvNbF39Xf7pTxP8AQ7t9kHzF1SFKhXupcQ/V5IWnotpTEAHMDygobE4UkgjyRNPVTCgWOp7jzXm0Ns0Zj8j3CjRViKPhTmFFmF2RZyXKago+DuomnY2Rjs1B/wCgoMtiBLj3ReEw6orfqPdNMJp4rQ0HA+GE9ltOG4SQAB7taEp/Dn6W9itZ+Gsx3K51s54XwwNjmz/tHTRaXBUJAtAQOD/WndDIKF8SaxTAXl1bkYeXl5dC6I4uwuLqK//ZTak Penting Berapa Panjang Usiamu, Tapi Sangat Penting
Hidup Benarmu
   
Masih hidup, itu berarti masih diberi waktu oleh Tuhan untuk hidup sebagai pelayan-Nya. Apalagi jika seharusnya Anda mati, tapi masih diberi kesempatan hidup, hanya satu tujuannya, yaitu melayani DIA dengan tidak lagi menyayangi diri sendiri. Dalam hidup ini tidaklah terlalu penting berapa panjang usia kita. Sekalipun sebagai manusia semua kita menginginkannya. Semuanya bernilai kuantitatif dan sangat relatif. Cobalah pikirkan, ada orang yang sangat cinta Tuhan, setia melayani, dan terbukti buah hidupnya dalam perjalanan waktu. Tapi usianya pendek, itu ukuran kemanusiaan kita. Sementara ada seorang yang berusia sangat lanjut, tapi hidup dalam keributan yang tiada henti. Dosa demi dosa silih berganti dilakukannya. Ah, tapi usianya lanjut. Ingat usia ada dalam kuasa Tuhan. Dalam usia pendek di hidup yang benar, bisa jadi Anda sedang menerima upah, dipanggil untuk bersekutu di surga dengan DIA. Sebaliknya, usia panjang yang lanjut, bisa jadi Tuhan sedang menghukum sehingga Anda tetap berada didunia, dan terus ada dalam keributan. Anda lelah, kawan tiada, ingin mati, tapi DIA tak memberikan kematian.

    Maka jelaslah bagi kita, bukan soal berapa panjang usia yang ada, tapi berapa benar hidup kita. Maka berapapun usia yang ada, itu adalah anugerah yang menuntut kita untuk selalu hidup dalam kebenaran-Nya. Dan, jika kelak kita dipanggil-Nya, kita seperti para Nabi dan para Rasul.
    Dalam PL, ketika kita membaca sepuluh hukum Tuhan, dikatakan:
“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjutumurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Keluaran 20:12)

Tekanan umur sangat terasa di sana. Ini sejalan dengan cerminan PL atas berkat Tuhan yang seringkali digambarkan secara kuantitatif. Seperti panjangnya umur Nuh. Kekayaan Abraham yang besar. Juga Ayub yang terkenal paling kaya di jamannya. Sekalipun dalam PL, ada juga kisah janda miskin di Sarfat yang mendapat belas kasihan Tuhan melalui nabi Elia. Atau para nabi yang hidup tak kaya, malah terpenjara. Tapi memang kebanyakan ukurannya kuantitatif. Dalam hal ini, jangan terjebak pada ukuran angka.

    Dalam PB, terasa jelas ada lompatan berkat kepada nilai kualitatif, ketika Paulus berkata; Hidup adalah Kristus dan mati keuntungan. Maka hidup bukan soal kaya, atau miskin, sehat atau sakit, panjang atau pendek umur. Tekanannya jelas soal bagaimana kita hidup melayani DIA. Namun juga jangan terjebak pada dikotomi kaya, miskin. Karena di PB, juga tercatat Yusuf Arimatea yang kaya, yang mempersembahkan tanahnya untuk kubur Yesus. Zakheus yang kaya, yang membagi separuh dari kekayaannya untuk orang miskin. Semangat mereka bukan supaya kembali berlipatganda, tetapi berbagi sebagai orang yang diberkati. Sementara para rasul hidup miskin secara ekonomi, namun kaya rohani. Yohanes yang berumur panjang, tapi berada di pembuangan di Patmos. Sebaliknya, saudaranya Yakobus justru mati muda dibunuh dengan pedang di Yerusalem, yang disebut kota mulia, tapi yang juga menyalibkan Yesus Kristus (Markus 10:35, Kisah 12:2).  

    Jadi, di relatifnya jumlah umur, hiduplah yang benar!   Janganlah mendukakan Roh Kudus Allah yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan (Efesus 4:30). Hidup kita adalah sebuah pertempuran melawan dosa. Dengan hidup benar, kita menyenangkan Roh Kudus, sebaliknya, jika hidup tidak benar, kita mendukakannya.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8)

    “Selamat berkompetisi dengan tegar, untuk hidup benar”


A.    Selamat Hari Jadi, Selalu Ada Dua Sisi

Hari jadi selalu dinanti. Selamat panjang umur, ucapan yang mengalir dari mulut handai taulan. Dari kartu ucapan, Short Message Service (SMS), chat, hingga teknologi multi media, semua digunakan untuk meramaikan dan membahagiakan yang berhari jadi.  Kue disedikan, lilin ditiup, lagu dinyanyikan, semua bergembira. Terasa lengkap suasananya dari semua sisi.  Ah, senangnya berhari jadi. Belum lagi surprise tengah malam, di pukul 24.00, dan berbagai bentuk lainnya. Luar biasa suasana hati dibuatnya.

    Namun di hari jadi, tak banyak yang memperhatikan perjalanan hidup. Sehingga hari jadi melulu soal senang, tak ada perenungan pribadi di sana, apalagi bersama. Ya, seharusnya patut diperhatikan, untuk selalu membuat kita waspada di kehidupan.  Ingat, ketika hari jadi itu berarti usia kita bertambah.  Namun, di saat bersamaan jatah hidup kita berkurang.  Tak satupun kita yang tahu berapa jumlah tahun kehidupan yang kita miliki.  Dan, ketidaktahuan inilah yang membuat kita senang, sekaligus lupa pada fakta.  Ya, semua kita tahu bahwa ketika bertambah umur satu tahun, berarti berkurang pula setahun perjalanan hidup kita.

    Hari jadi memang selalu dua sisi. Sisi senang ketika umur bertambah, tapi juga sedih pada fakta perjalanan hidup yang berkurang. Lalu bagaimana sikap bijak menyikapi hal ini? Sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan. Belajarlah bijak menghitung hari, seperti yang dikatakan Musa dalam doanya: 
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12).
Hari jadi memang patut kita syukuri, namun jangan abai untuk cepat berhitung, bagaimana kita menjalani waktu-waktu yang telah lalu. Jika perjalanan hidup kita sesuai dengan Firman-Nya, bersyukurlah, dan teruslah jaga dan kembangkan. Namun, jika banyak kesalahan yang terukir di perjalan kehidupan, menyesallah, akui dan jangan berbuat lagi. Maka hari ke depan adalah hari penebusan.

    Kegagalan di waktu lampau tak mungkin kita kembali ke sana untuk mengubahnya. Yang ada ialah fakta waktu di depan yang menanti. Di sinilah, di waktu yang berjalan, kita menebus kesalahan di waktu yang lalu dengan hidup benar.  Ini bukan supaya kesalahan di waktu lalu bersih, karena kita tak mungkin membersihkannya dengan perbuatan baik yang sekarang. Ini adalah soal tekad dan tanggungjawab hidup benar, sehingga semakin hari hidup kita semakin bermutu. Tak lagi tersandung, apalagi terjebak dalam perangkap dosa.

    Dua sisi di hari jadi, jadikan sebuah momentum perhitungan, seperti layaknya kita mengaudit perusahaan. Membuat neraca kehidupan, untuk melihat nilai kehidupan. Surplus, atau sebaliknya defisit. Balance bukanlah pencapaian yang ditergetkan, melainkan hidup surplus, yakni hidup benar yang konsisten. Tak mudah, tapi harus!  Ini adalah pertandingan hidup kita. Di sinilah seharusnya seni berhari jadi. Tak sekadar kumpul bersama dalam suasana pesta, tapi juga perlu sendiri untuk mengaudit diri.

    Hidup ini akan terus semakin bersinar dengan benar jika kita terjaga dalam audit diri.  Tak perlu bersikap ekstrim dengan menolak penyambutan hari jadi, Namun juga jangan terjebak dalam pesta yang justru berbuah dosa. Yang kita perlukan sikap bijak, rayakan dan perhitungkan. Semakin bertambah usia, kita semakin bijaksana, dan semua orang dapat melihatnya. Pasangan Anda, anak-anak, keluarga besar, rekan kerja, masyarakat di mana kita ada, tanya mereka; Apakah Anda semakin berubah baik? Jangan takut bertanya, tapi jangan berharap jawaban palsu. Jawaban benar memang akan menyakitkan, tapi itulah yang kita butuhkan.

“Hari jadi, audit kehidupan, dan  temukan jati diri”.

B.    Jangan pernah berhutang kasih

Berhutang kasih, sedikit sudah kita bicarakan di atas. Mari kembali untuk mendalami. Perumpamaan dalam Injil Matius 18:23-34, tentang seorang hamba yang berhutang banyak kepada seorang raja. Sepuluh ribu talenta, sebuah jumlah yang sangat besar, seluruh keluarganya menjadi taruhan karena hutangnya.  Dia sangat beruntung karena raja bermurah hati dan menghapus seluruh hutang yang tidak mungkin terlunasi. Tak bisa dibayangkan betapa sukacitanya hamba itu, lepas dari kematian, atau seluruh keluarganya terjual sebagai budak, yang sama saja mati selagi hidup. Kini dia terbebas dari hutang besarnya. Berkumpul bersama keluarganya sebagai orang merdeka. Namun, sangat ironis, dia sungguh hamba yang kehilangan hati nurani. Lepas dari kemurahan raja yang menghapus hutangnya sepuluh ribu talenta (1 Talenta = Rp.2.160.000), dia mencari rekannya sesama hamba yang memiliki hutang padanya sebesar seratus dinar (1 Dinar = Rp.360). Sebuah perbandingan angka yang sama sekali tak sebanding. Namun, kesemenaan ditunjukkannya, rekan sesama hamba yang tak mampu membayar ditangkapnya, dicekik, dan dijebloskannya ke dalam penjara. Raja yang berkuasa penuh, berbelas kasihan, menghapuskan hutangnya yang sangat besar. Sementara dia dengan sesama hamba, sesama orang susah, bertindak bengis untuk sebuah jumlah yang tak sebanding dengan hutangnya. Itulah realita kehidupan manusia berdosa. Dosa yang membinasakan diampuni Tuhan, tetapi sesama dianiaya.

    Hamba yang hutangya dihapuskan itu sudah semestinya mengerti sepenuhnya, bahwa dia juga tak berdaya membayar hutang pada raja. Dengan sesama hamba, dia bukan saja mengerti arti kesusahan, tetapi juga pengampunan. Menghapuskan hutang temannya, sudah semestinya sebagai ekspresi syukur untuk penghapusan hutang yang dialaminya. Sebaliknya, dia bersikap bengis, menangkap, mencekik, dan memenjarakan rekannya.

    Peristiwa itu sampai pada raja, dan menimbulkan murka yang sangat. Hamba yang hutangnya dihapuskan raja, ditangkap kembali, diserahkan kepada algojo, hingga hutangnya dilunasi. Artinya, tidak akan pernah lunas, sampai kematian menjemputnya.  Bodoh, keterlaluan, itulah kata yang pantas bagi hamba yang tidak tahu bersyukur itu. Pengalaman besar diampuni, tak menjadi pelajaran untuk mengampuni. Bagaimana dengan kita?

    Sebagai manusia berdosa, yang kini menjadi orang percaya, semua kita telah menerima pengampunan-Nya. Kita dikasihi-Nya. Seperti apa sikap kita terhadap sesama? Apakah kita juga tahu bersyukur, dan belajar mengampuni sesama. Belajar mengasihi mereka. Jelas hal ini tidak mudah, apalagi jika yang diampuni cenderung tidak tahu diri, tidak tahu berterimakasih. Namun, mengasihi juga bukan tidak mungkin, karena pengalaman diampuni akan mengingatkan kita, dan Roh Kudus menolong kita untuk berlaku sama. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita bisa mengasihi, bahkan orang yang membenci sekalipun.
    Berhutang kasih, jangan lagi! Ingat betapa besar kasih-Nya kepada kita, dengan mengampuni segala hutang yang tak terlunasi. Jika ada kesempatan berbuat baik, mengasihi, itulah berkat sejati. Hidup yang bersaksi dan beraksi. Dunia perlu model aktual nilai keimanan kita. Kasih yang nyata, bukan hanya untaian kata. Semakin hari memang semakin tersa sulit menyaksikan kasih orang Kristen. Kebanyakan kita terjebak pada teori tentang kasih. Ayat kitab suci hanya jadi hafalan.  Berkat bagi kita sangat materialistis, jasmaniah, abai pada nilai rohani. Semua yang kita dapatkan, baik berkat materi, kekuatan jasmani, hanya satu fungsinya, yaitu merebut berkat sejati dengan mengisi kekosongan kasih di dunia ini. Lalai mengisi, abai mengasihi, itu sama dengan berhutang kepada Sang Sumber Kasih.

    Jika Anda Kristen sejati, pasti tahu diri, dan malu berhutang kasih. Itu ciri orang pilihan. Namun, jika Anda hanya sekadar seorang yang beragama Kristen, yang dipanggil tapi bukan yang dipilih, pasti akan terus menumpuk hutang baru. Bahwa belajar tak berhutang itu susah, tak perlu dibantah. Itu fakta. Tapi selalu ingat, bahwa membayar dengan membagi kasih adalah keniscayaan bagi orang percaya. Juga kesukacitaan. Ingat, bukan sekadar siapa kita, tapi yang memimpin dan memampukan kita, yaitu Roh Kudus.

    Sekali lagi, jangan berhutang kasih. Sekadar sebuah perenungan; Jika terlalu banyak milikmu, mungkin itu hanya pertanda betapa sedikit yang kamu bagikan. Jika kamu merasa senang dengan apa yang kamu miliki, awas itu bahaya. Karena sukacita adalah jika dengan yang kita miliki kita bisa berbagi kasih. Semoga kita bijak untuk membaca dan mengukur diri, supaya, selagi nafas masih ada, kita terus menerus berbagi kasih. Inilah hidup yang harus kita lakoni.

    “ Hutang uang bisa dilunasi, hutang kasih terbawa mati”

C.    Jadilah Hamba-Nya Sepanjang Hidupmu

    Kamu adalah hamba, itu kata Yesus Kristus. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata:
“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Lukas 17:10)

Ada orang yang berkata, kita bukan hamba, tapi kita adalah sahabat. Terhadap hamba ada rahasia, tapi bagi sahabat semua rahasia dibuka. Apakah begitu kesaksian Alkitab? Ucapan Yesus Kristus di Injil Lukas jelas membantahnya.  Soal sahabat itu juga dikatakan Yesus dalam Yohanes 15:15; Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuan-Nya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Ku dengar dari Bapa Ku.

Mari membaca Alkitab, tak hanya sebagian, tapi belajarlah seutuhnya. Dalam konteks sahabat, Yesus Kristus meletakkannya atas dasar telah memberitahukan semua apa yang telah didengar dari Bapa.  Hal itu ada di mana-mana di kitab Injil.  Dan di pasal sebelumnya Yesus Kristus juga bahkan berbicara tentang Dia akan kembali ke rumah Bapa, dan menyediakan tempat bagi orang percaya. Hal seperti inilah yang dimaksudnya sebagai tidak ada yang rahasia. Semua kita bisa membaca itu di Alkitab. Alkitab telah memberitahu semuanya, dan itu tidak boleh ditambahi, atau dikurangi oleh siapapun. Itu sebab ada yang disebut: Guru palsu, nabi palsu, rasul palsu, bahkan mesias palsu, yaitu mereka yang menambahi atau mengurangi, atau memutarbalikkan pesan Alkitab.

Sahabat, juga merupakan ukuran hidup mengasihi, seperti apa yang diperintahkan Yesus. Artinya, jika betul sahabat, kita pasti mengerti semua perintah dan ajaran-Nya, dan hidup melakukannya. Ukurannya jelas, soal sahabat bukan soal hari esok ada apa. Bahwa sebagai sahabat kita akan diberitahu-Nya apa yang akan terjadi. Dia telah mengajarkan kita, jangan kuatir soal hari esok. Yang kita perlukan bukan apa kata orang, atau pengkotbah, tapi mencari Kerajaan Allah, dan kebenarannya (Matius 6:25-34).

  Sementara sebagai hamba, kita dipanggil untuk melayani-Nya. Melayani sepanjang hidup, tanpa membicarakan jasa pelayanan kita. Kita hanya hamba yang dilibatkannya dalam pekerjaan-Nya di dalam dunia ini. Sungguh tak layak berhitung dengan-Nya, yang maha mengasihi. Mari memberi persembahan, karena DIA yang terlebih dahulu memberikan kita rejeki. Semua dari-Nya, kembali kepada-Nya. Berhitung? Itu tak layak dilakukan seorang hamba terhadap Tuannya, pemilik hidupnya. Seorang sahabat sejati juga tak melakukan hal itu. Berhitung hanya dilakukan orang yang bertransaksi se-level. Saya percaya, kita semua sadar kita tidak se-level dengan DIA, Tuhan kita. Kecuali memang kita dirasuki semangat Adam, yang dirasuki semangat Lucifer.

Jadilah hamba sepanjang hidupmu, itu harus menjadi semangat membara untuk melayani DIA. Jangan pernah hitung berapa banyak yang telah kita kerjakan dalam melayani DIA, tapi berhitunglah selalu, berapa banyak yang belum kita kerjakan dalam melayani DIA. Tuhan tidak akan lalai memelihara kita, tak perlu mengajari DIA. Sebagai sahabat, kita diberitahu semua kehendak-Nya, dan sebagai hamba, kita melakukanya, tanpa berhitung untung ruginya. Toh sudah dibayar di muka, dengan darah suci yang tak mungkin kita lunasi.

Kiranya di waktu kita dipanggil-Nya, ucapan indah itu terdengar; Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya datang (Matius 24:46). Dan, Maria dengan segala kesadaran berkata; Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; Jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Lukas 1:38). Maria, bukan imam, bukan nabiah. Maria orang biasa yang tahu diri sebagai hamba. Mengapa banyak orang sangat bernafsu menyebut diri sahabat, tapi tak mau menyebut diri, aku ini hanya seorang hamba?  Jawabannya ada pada pengajaran Alkitab yang kita dapat, dan kejujuran hati nurani kita. Kita adalah sahabat bukan supaya hidup seenak mungkin, tapi hamba-Nya yang melayani tanpa perhitungan, dan selama mungkin, hingga kematian itu tiba.

    “Hidup menghamba pada-Nya bukan malapetaka, tapi tujuan mulia”

 
Copyright © 2014 Renungan Pagi. All Rights Reserved. Powered by Renungan pagi online
Modified Template by Yunus Mikaart and Bacaan Rohani